PROBOLINGGO, PATROLI POS
Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton menjadi salah satu lokasi kunjungan monitoring Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo dalam rangka pelaksanaan Imtihan Wathani Pendidikan Diniyah Formal (PDF). Pesantren bertaraf nasional ini dikenal sebagai salah satu pesantren besar di Indonesia yang juga menampung santri dari mancanegara, bahkan santri lulusan dari Nurul Jadid tidak sedikit yang melanjutkan studinya ke Al-Azhar Mesir, Amerika dan Tiongkok (China).
Selain mengelola pendidikan kepesantrenan, Pondok Pesantren Nurul Jadid juga menaungi Universitas Nurul Jadid, serta menyelenggarakan Pendidikan Diniyah Formal (PDF) dan Ma’had Aly sebagai bentuk komitmen dalam penguatan pendidikan keislaman berjenjang dan berkualitas.

Kunjungan monitoring tersebut dipimpin oleh Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag Kabupaten Probolinggo, dan sempat bersilaturrahim dengan pimpinan Lembaga Gus Abu Yazid Albusthomi, jajaran pendidik, mas Misbah Ratib salah satu senior berdirinya Pendidikan Diniyah Formal di lingkungan PP Nurul Jadid.
Dalam diskusi santai, Kasi PD Pontren menegaskan bahwa keberadaan PDF di pesantren besar seperti Nurul Jadid memiliki peran strategis dalam memperkuat mutu pendidikan pesantren secara nasional. Ia berharap PDF tidak hanya menjadi pelengkap, melainkan mampu terus berkembang sebagai pilihan utama santri.

“Kami berharap Pendidikan Diniyah Formal di Pondok Pesantren Nurul Jadid ini terus diperkuat kualitasnya, sehingga benar-benar menjadi pilihan utama santri, bukan sekadar alternatif,” tegasnya di hadapan para pengelola lembaga.
Ia juga menambahkan bahwa pelaksanaan Imtihan Wathani merupakan instrumen penting untuk menjamin mutu, kesetaraan, serta pengakuan nasional terhadap lulusan Pendidikan Diniyah Formal, sekaligus memastikan penyelenggaraan pendidikan berjalan sesuai standar yang ditetapkan Kementerian Agama.
Melalui monitoring ini, Kemenag Kabupaten Probolinggo menegaskan komitmennya dalam mendukung pesantren sebagai pusat pendidikan Islam yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global, tanpa meninggalkan nilai-nilai dan tradisi kepesantrenan yang menjadi jati diri bangsa. (Mp/Red**).
