PROBOLINGGO, PATROLI POS
Peringatan Harlah Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Probolinggo menjadi momentum strategis untuk memperkuat konsolidasi organisasi dan meneguhkan kembali khidmat NU dalam membangun peradaban Islam dan kebangsaan. Kegiatan yang mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia” ini dihadiri jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo, badan otonom, lembaga NU, pengurus MWCNU, serta pengurus inti PWNU Jawa Timur. Sabtu,(10/1).
Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo, Teguh Mahameru Zainul Hasan, dalam sambutannya menegaskan bahwa satu abad NU harus dijadikan titik tolak penguatan tata kelola organisasi dan konsolidasi menyeluruh dari tingkat cabang hingga ranting. PCNU, kata dia, mulai menyusun perencanaan organisasi lima tahun ke depan dengan menekankan kesinambungan program, kolaborasi lintas lembaga, serta penguatan peran NU di tengah masyarakat.
Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan tausiyah Ketua PWNU Provinsi Jawa Timur KH. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. Dalam tausiyahnya, Gus Kikin mengingatkan bahwa secara administratif masih terdapat beberapa PCNU di Jawa Timur yang belum mengantongi SK kepengurusan. Namun demikian, kondisi tersebut tidak boleh mengendurkan semangat khidmat dan silaturahim jam’iyah.
“Jangan sampai urusan administratif melemahkan khidmat kita. Yang paling utama adalah menjaga silaturahim dan mengingat tujuan berdirinya Nahdlatul Ulama, yaitu membangun dan memakmurkan masyarakat Islam,” tegas Gus Kikin.
Ia menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama merupakan kelanjutan dari perjuangan dakwah Rasulullah SAW dalam membangun masyarakat beradab, dimulai dari era jahiliyah, masa sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, hingga lahirnya Jam’iyah Nahdlatul Ulama dan terus berlanjut di era modern.
Gus Kikin menekankan bahwa ber-NU harus dijalani secara totalitas, tidak sekadar kehadiran fisik dalam struktur organisasi. “Masuk NU itu harus dengan hati. Khidmat di NU adalah ibadah yang orientasinya mencari ridha Allah SWT,” ujarnya.
Dalam pesannya, Gus Kikin secara tegas mengingatkan pentingnya menjaga persatuan internal. Menurutnya, NU adalah rumah besar persaudaraan yang tidak memberi ruang bagi permusuhan.
“Di dalam Nahdlatul Ulama tidak ada permusuhan dan tidak boleh ada permusuhan. Jika masih ada, itu pertanda hati yang perlu dibersihkan,” tegasnya.
Dalam konteks kebangsaan, Gus Kikin menegaskan peran strategis NU sebagai penjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Warga Nahdliyyin, kata dia, harus tampil sebagai manusia terbaik yang memberi manfaat bagi umat, bangsa, dan negara, sebagaimana nilai khairunnas anfa’uhum linnas, serta senantiasa melakukan mujahadatun nafs sebagai fondasi keikhlasan dalam berkhidmat.
Mengulas sejarah, Gus Kikin menyampaikan bahwa saat NU didirikan, terdapat sedikitnya tujuh organisasi Islam keagamaan. Ketika kolonialisme datang dengan tujuan menguasai dan menjajah masyarakat, Nahdlatul Ulama memilih jalan dakwah yang merangkul umat melalui penguatan akidah dan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.
Melalui momentum satu abad NU ini, PCNU Kabupaten Probolinggo berkomitmen memperkuat sinergi seluruh komponen jam’iyah, menjaga kesinambungan perjuangan, serta menghadirkan Nahdlatul Ulama sebagai kekuatan moral dan sosial yang terus memberi manfaat nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Mp/Red**.
