PROBOLINGGO, PATROLI POS
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) SMP Kabupaten Probolinggo menggelar kegiatan Penguatan Pendidikan Karakter melalui Deep Learning yang bertempat di Aula Ki Hajar Dewantara, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikdaya) Kabupaten Probolinggo, Selasa (13/01/2026).

Kegiatan MGMP PAI SMP kali ini menghadirkan dua pemateri yang andal dan berkelas, yakni Kepala Bidang Pendidikan SMP Dikdaya Kabupaten Probolinggo, Like Lidyawati, S.Pd., M.Pd., yang menyampaikan materi penguatan pendidikan karakter, serta Edy Santoso, M.Pd., selaku Pengawas Pendidikan Kabupaten Probolinggo, yang mengisi materi penguatan pemahaman pembelajaran deep learning.
Momentum “duet maut” dua tokoh pendidikan Kabupaten Probolinggo tersebut terlihat saat keduanya sama-sama mengupas materi secara mendalam. Penyampaian materi disajikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh seluruh anggota GPAI yang hadir. Antusiasme peserta tampak jelas, suasana kegiatan pun diwarnai canda tawa karena kedua pemateri menyampaikan materi secara komunikatif, interaktif, dan tidak monoton.
Like Lidyawati, S.Pd., M.Pd. menyampaikan bahwa pemerintah memandang rendahnya literasi dan numerasi sebagai persoalan mendasar dalam pembentukan karakter peserta didik. Lemahnya kemampuan memahami bacaan menunjukkan belum tumbuhnya karakter gemar belajar, berpikir kritis, dan tekun, sehingga diperlukan upaya sistematis untuk membangun pemahaman belajar yang bermakna sejak dini.
“Minimnya minat membaca meskipun buku telah tersedia mengindikasikan bahwa pembelajaran belum sepenuhnya menyentuh kesadaran dan kebutuhan belajar peserta didik. Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran yang kontekstual diperlukan agar peserta didik tidak hanya menerima materi, tetapi mampu memahami makna belajar sebagai proses pembentukan sikap disiplin, tanggung jawab, dan rasa ingin tahu,” paparnya saat menyampaikan materi.
Senada dengan hal tersebut, pemateri kedua Edy Santoso, M.Pd. menyampaikan bahwa pembelajaran deep learning dipahami sebagai pembelajaran bermutu yang menekankan kesadaran, keteladanan, dan keterukuran dalam membentuk karakter peserta didik. Guru tidak cukup hanya menyampaikan materi, tetapi harus mengolah olah pikir, olah rasa, olah hati, dan olah raga secara terarah agar pembelajaran benar-benar bermakna. Tanpa pemahaman tersebut, pembelajaran berisiko hanya bersifat permukaan (surface learning), sehingga siswa hadir di sekolah tetapi tidak mengalami perubahan sikap, pengetahuan, maupun keterampilan yang berdampak pada pembentukan karakter.
“Penerapan deep learning menuntut guru untuk memulai pembelajaran dari asesmen yang tepat, keteladanan sikap, serta refleksi berkelanjutan. Pembelajaran karakter tidak efektif jika hanya berupa nasihat atau pidato, melainkan harus dicontohkan dan dialami langsung oleh siswa melalui kebiasaan positif yang konsisten. Oleh karena itu, deep learning menjadi urgensi dalam pendidikan karena mampu menghubungkan pemahaman, praktik, dan refleksi, sehingga karakter siswa tumbuh secara sadar, terukur, dan berkelanjutan,” ujarnya. MD.
