PROBOLINGGO, PATROLI POS
Suasana penuh khidmat mewarnai kegiatan Pembinaan ASN dan Halal Bihalal Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo saat Mutiara Hikmah Halal Bihalal disampaikan oleh Dr. Moh. Nurhasan, SH., M.Hum. Dalam orasi ilmiahnya, ia mengajak seluruh ASN meneguhkan integritas, memperdalam spiritualitas, serta memahami nilai historis dan teologis di balik tradisi halal bihalal.
Mengawali paparannya, Nurhasan menyampaikan pesan sederhana namun mendalam. “Jangan pernah berbohong agar hidup tidak diliputi kegundahan. Karena kegundahan itu seperempat dari stres,” ujarnya, menekankan pentingnya kejujuran sebagai fondasi ketenangan batin dan profesionalitas kerja.
Ia kemudian mengulas sejarah halal bihalal yang berakar dari gagasan KH. Abdul Wahid Hasyim atas permintaan Presiden pertama RI Ir. Soekarno. Tradisi ini, menurutnya, bukan sekadar budaya seremonial, melainkan memiliki nilai rekonsiliasi sosial yang kuat dalam kehidupan berbangsa.
“Karena itu, anggapan yang membid’ahkan halal bihalal adalah keliru. ASN Kementerian Agama harus memahami sejarah dan konteksnya secara utuh,” tegasnya.
Dalam perspektif keilmuan, Nurhasan juga menyinggung teori stimulus dan respons yang diperkenalkan oleh tokoh psikologi modern, yang kemudian ia kaitkan dengan nilai-nilai keislaman. Ia menjelaskan bahwa pikiran yang dibangun dari stimulus positif akan melahirkan perilaku dan hasil yang positif, demikian pula sebaliknya.
“Jika stimulus dalam diri kita positif, maka hasilnya pun positif. Maka penting bagi kita menjaga cara berpikir dan sudut pandang, terlebih sebagai ASN yang mengemban amanah pelayanan publik,” imbuhnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tradisi halal bihalal tidak bisa dilepaskan dari momentum Ramadan sebagai syahrus shiyam, bulan turunnya Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Oleh karena itu, Syawal harus menjadi kelanjutan dari proses penyucian diri.
“Jangan sampai di bulan Syawal masih ada ‘benang-benang kotor’ dalam hati kita. Isi dengan puasa sunnah dan saling memaafkan. Itulah tanda keberhasilan Ramadan,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa Ramadan merupakan “lumbung pahala” yang dilengkapi dengan instrumen penyucian, yakni zakat fitrah untuk jiwa dan zakat mal untuk harta. Menurutnya, semua itu bermuara pada satu tujuan besar, yakni membentuk insan bertakwa.
“Takwa adalah kesiapan diri menghadapi masa depan, sekaligus kemampuan menjaga hubungan baik dengan Allah dan sesama manusia,” tambahnya.
Dalam konteks ke- ASN-an, Nurhasan mengingatkan bahwa jabatan adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Ia mengajak ASN untuk kembali pada jati diri sebagai pewaris para nabi (waratsatul anbiya’), dengan memperkuat ma’rifatullah dan ma’rifatur rasul.
“Profesionalitas itu penting karena memiliki target yang jelas. Namun harus dibangun di atas integritas dan fondasi spiritual bahwa kerja adalah ibadah,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya harmoni dan kebersamaan dalam membangun kinerja organisasi. Menurutnya, profesionalisme tidak akan lahir tanpa adanya sinergi, integritas, serta kesadaran kolektif dalam bekerja.
“Ada time work dalam setiap pekerjaan, sebagaimana pemain sepak bola yang punya durasi dan strategi. ASN juga harus memiliki keterampilan, target, dan kesadaran bahwa setiap pekerjaan diawasi oleh Allah SWT,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Nurhasan juga mengenang kepemimpinan masa lalu di era KH. Nur Chotim Zaini yang dinilainya berhasil membangun sinergitas kuat antar ASN, termasuk harmonisasi antara warga Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
“Sinergi itu nyata pernah terbangun dengan baik. Ini harus kita rawat dan lanjutkan,” kenangnya.
Menutup orasinya, ia mengajak seluruh ASN untuk terus memperkuat keimanan, menjaga keikhlasan, serta memohon kekuatan kepada Allah SWT agar mampu menjalankan kebaikan dan menjauhi segala bentuk kesalahan.
“Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk menjalankan yang benar dan menjauhi yang salah,” pungkasnya.
Orasi ilmiah ini menjadi peneguh bahwa halal bihalal bukan sekadar tradisi, melainkan ruang refleksi untuk membangun ASN yang berintegritas, profesional, dan berlandaskan nilai-nilai spiritual dalam setiap lini pengabdian.(Mp/Red**).
