PROBOLINGGO, PATROLI POS
Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Siti Choiriyah Samsur, menegaskan bahwa santri yang berilmu dan berakhlak mulia merupakan fondasi penting dalam mewujudkan Indonesia Emas. Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual semata, tetapi juga harus mampu membentuk karakter, moral, toleransi, serta menanamkan kecintaan yang mendalam terhadap agama dan tanah air.
Pesan tegas tersebut disampaikannya dalam kegiatan “Refleksi untuk Negeri: Sholawat dan Doa Bersama” yang diselenggarakan oleh DWP Kemenag Kabupaten Probolinggo dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026, Rabu (14/10/2026). Agenda religi dan reflektif ini dihadiri langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo Samsur, Kepala Subbagian Tata Usaha Muhammad Sa’dun, para kepala seksi dan penyelenggara, serta jajaran pengurus dan anggota DWP Kemenag Kabupaten Probolinggo, dengan laporan panitia yang disampaikan oleh Vera As’adi.
Mengawali sambutannya, Siti Choiriyah menyelipkan pantun yang merefleksikan semangat pendidikan dan harapan besar bagi masa depan bangsa. “Santri berilmu, berakhlak mulia dan Indonesia jaya,” tegasnya. Ia mengapresiasi seluruh tim DWP yang telah bekerja sama menyukseskan kegiatan ini, yang merupakan bagian dari program kerja Bidang Pendidikan DWP sekaligus wujud kepedulian nyata terhadap penguatan pendidikan karakter, ketahanan keluarga, dan kehidupan sosial yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan.
Dalam pandangannya, pesantren memiliki peran yang sangat strategis dalam rekam jejak perjalanan bangsa Indonesia. Hingga saat ini, pesantren tetap konsisten menjadi ruang pendidikan yang tidak hanya mentransfer ilmu agama, tetapi juga melatih kedisiplinan, kesederhanaan, kemandirian, rasa tanggung jawab, serta penghormatan terhadap sesama. Kontribusi para kiai dan santri dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah dan pembangunan nasional, sehingga nilai-nilai luhurnya wajib terus dijaga dan dikembangkan.

“Dari pesantren lahir generasi yang berilmu dan berakhlak mulia. Tanggung jawab kita bersama adalah menjaga nilai-nilai luhur tersebut melalui pendidikan, pembinaan karakter, dan pendalaman keilmuan,” ungkap Siti Choiriyah. Ia menambahkan bahwa pembentukan generasi unggul juga harus berakar dari lingkungan rumah. Pendidikan karakter harus dimulai dari keluarga, diperkuat oleh lembaga pendidikan formal maupun nonformal, dan tercermin dalam perilaku sehari-hari di tengah masyarakat.
Secara khusus, ia menggarisbawahi pentingnya peran perempuan dalam melahirkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan nasionalis. Perempuan di lingkungan keluarga memegang posisi sentral dalam menanamkan nilai agama, moralitas, toleransi, dan semangat belajar kepada anak-anak. Keluarga yang harmonis serta memiliki pijakan spiritual yang kokoh menjadi modal utama dalam mencetak generasi penerus bangsa, di mana anggota DWP diharapkan mampu hadir sebagai teladan terbaik.
Siti Choiriyah juga mengaitkan pembinaan karakter ini dengan penguatan moderasi beragama. Menurutnya, rasa cinta terhadap agama dan tanah air harus berjalan beriringan yang diwujudkan melalui sikap saling menghormati, menjaga persatuan, serta menciptakan kehidupan sosial yang damai. Melalui momentum Hari Santri ini, ia mengajak seluruh anggota DWP untuk aktif membentuk generasi religius, menjaga keharmonisan keluarga, dan menjadi teladan di masyarakat. Ia pun mengingatkan bahwa tingginya pendidikan formal harus selalu diimbangi dengan kualitas moral dan integritas, karena keberhasilan pendidikan hakiki diukur dari manfaat nyata yang diberikan kepada masyarakat. (Mp/Red**).
