PROBOLINGGO, PATROLIPOS
Resepsi Hari Santri Nasional yang dihelat Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Probolinggo di Masjid Agung Raudhatul Jannah, Sabtu (24/10/2026), tidak sekadar menjadi ajang seremonial tahunan. Di tengah ribuan jemaah Nahdliyin, Forkopimda, hingga jajaran legislatif yang memadati lokasi, penceramah utama Dr. KH. Rijal Mumazziq (Gus Rijal) membongkar substansi ideologis di balik tradisi organisasi terbesar di Indonesia ini.
Rektor Universitas Alfalah Assunniyah (UAS) Kencong, Jember, tersebut secara blak-blakan menepis stempel miring sebagian pihak yang menilai acara NU terlalu bertele-tele atau “kakean seremonial”. Ia merinci makna filosofis di balik susunan acara baku NU—mulai dari tawasul, pembacaan Al-Qur’an, selawat, penggabungan lagu Indonesia Raya dan Mars Syubbanul Wathon, hingga istigatsah dan tahlil. Menurutnya, rangkaian tersebut merupakan fondasi teologis dan bentuk tanggung jawab ganda: keislaman sekaligus keindonesiaan.
Dalam tausiahnya, Gus Rijal menyoroti pandangan miring sebagian kalangan luar yang sering menganggap acara resmi NU terlalu panjang dan bertele-tele. Padahal, setiap jengkal urutan acara memiliki fondasi ideologis dan teologis yang kuat. Melalui parafrasa pemikirannya, beliau menjelaskan bahwa susunan tersebut sarat akan makna di mana tawasul berfungsi sebagai penegas bahwa sanad keilmuan warga NU tersambung autentik kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW melalui perantara para guru dan masyayikh, Al-Qur’an diposisikan sebagai pedoman hidup utama yang disusul selawat sebagai bentuk konkrit peneladanan akhlak Rasulullah SAW, duet lagu kebangsaan dan mars syiar menyimbolkan komitmen ganda NU secara seimbang untuk menjaga ajaran Islam sekaligus merawat kedaulatan NKRI, serta istigatsah dan tahlil dicerminkan sebagai wujud sikap Roja’ atau pengharapan penuh seorang hamba kepada Allah SWT untuk memohon rahmat dan ampunan.
Tidak hanya mengupas tontonan ritual, Gus Rijal juga memberikan atensi khusus kepada kelompok seni hadrah ISHARI. Menurutnya, para penabuh terbang tersebut adalah cerminan sejati para perindu Rasulullah SAW yang senantiasa bergerak dengan ketulusan dan keikhlasan di tengah segala keterbatasan fasilitas. Selain itu, ia turut menyampaikan rasa takzim kepada badan otonom perempuan seperti IPPNU, Fatayat, dan Muslimat yang diibaratkan sebagai rahim pencetak muharrik (penggerak) masa depan NU. Dengan sedikit kelakar kultural, ia mengingatkan jamaah agar tidak pernah melupakan pentingnya memohon doa restu kepada ibu-ibu Muslimat yang dikenal memiliki kemustajaban doa.
Puncak dari paparan Gus Rijal ditutup dengan penawaran kearifan lokal pesantren bertajuk “Resolusi Konflik ala NU” guna meredam berbagai bentuk perselisihan di tengah masyarakat. Langkah pertama yaitu piye enake yang menuntut peleburan ego personal dari masing-masing pihak yang berseteru karena tanpa kerelaan untuk menekan keangkuhan, jalan keluar damai tidak akan pernah tercapai. Dilanjutkan dengan langkah kedua yaitu piye apike sebagai tahap perancangan solusi konkret pasca-konflik, di mana melalui prinsip ini kepingan masalah dapat diselesaikan secara rapi berdasarkan mufakat dan kemasalan bersama. Formula sederhana warisan leluhur ini dinilai menjadi kunci ampuh menjaga keutuhan bangsa yang berakar kuat dari rumput bawah. (INF/Red**).
