PROBOLINGGO, PATROLI POS
Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai pertemuan antara warga, wali santri, dan wakil rakyat di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Furqon, Desa Karanggeger, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, Selasa (27/10/2026).
Kegiatan yang sejatinya dikemas sebagai sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan tersebut berubah menjadi ruang dialog terbuka yang menyentuh hati. Puluhan warga memanfaatkan momen ini untuk menyampaikan unek-unek mereka terkait masa depan pendidikan anak-anak di daerah.

Fasilitas Minim, Anak-Anak Tetap Semangat
Dalam pertemuan tersebut, persoalan keterbatasan infrastruktur sekolah dan madrasah menjadi curhatan utama warga. Banyak wali santri mengeluhkan kondisi bangunan, ruang belajar yang kurang memadai, hingga minimnya fasilitas pendukung yang selama ini dinilai belum tersentuh perbaikan maksimal.
Bagi warga Probolinggo, pendidikan dasar adalah tumpuan utama untuk mengubah nasib generasi mendatang. Namun, kondisi sarana yang terbatas kerap kali menjadi ganjalan bagi anak-anak di pelosok desa untuk belajar dengan nyaman.
Gus Hilman Siap Jadi Sambungan Lidah Warga
Menanggapi keluhan masyarakat, Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhammad Hilman Mufidi—atau yang akrab disapa Gus Hilman—mendengarkan dengan cermat setiap poin aspirasi yang disampaikan.
Gus Hilman menegaskan bahwa tugas wakil rakyat adalah hadir mendengarkan dan membawa suara akar rumput langsung ke meja pembuat kebijakan di pusat.
“Kami di DPR berupaya untuk dapat menjadi penghubung antara kebutuhan warga di lapangan dan pemerintah melalui kementerian terkait. Dengan begitu, berbagai persoalan mendasar yang selama ini dihadapi sekolah maupun madrasah dapat segera disampaikan kepada pihak yang memiliki kewenangan,” tegas Gus Hilman.
Ia menambahkan, perbaikan pendidikan bukan sekadar urusan mendirikan bangunan fisik, melainkan tentang memberikan rasa adil dan kenyamanan belajar bagi seluruh anak, tanpa terkecuali.
Mendorong Ketertinggalan Daerah Lewat Pendidikan
Gus Hilman juga menyinggung tantangan besar yang dihadapi Probolinggo saat ini, di mana posisi pembangunan daerah masih berada di peringkat 10 terbawah. Menurutnya, kondisi ini justru harus menjadi pelecut semangat bersama untuk memperkuat kolaborasi.
Ia mendorong masyarakat agar tak ragu dan terus aktif menyampaikan kondisi riil di lingkungan mereka. Pelaporan warga sangat berharga agar pemerintah bisa menentukan prioritas penanganan secara tepat sasaran.
“Keterlibatan masyarakat sangat penting untuk memastikan berbagai kebutuhan pendidikan di daerah tidak luput dari perhatian pemerintah. Pembangunan pendidikan tidak boleh hanya berpusat di kota, tetapi harus menjangkau pelosok desa,” pungkasnya.
Melalui sinergi erat antara warga, wakil rakyat, dan pemerintah, tumpuan harapan anak-anak di Probolinggo untuk mengenyam pendidikan di sekolah yang layak dan memadai diharapkan bisa segera terwujud. (Red**).
