PROBOLINGGO, PATROLI POS
Mengakhiri bulan suci Ramadhan 1447 H dengan penuh khidmat, SMA Negeri 1 Krucil sukses menyelenggarakan rangkaian kegiatan “Pondok Ramadhan”. Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah ikhtiar besar untuk mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara spiritual dan karakter.

Di bawah komando Ibu Nurhayati Ningsih, S.Pd., M.Pd., selaku Kepala Sekolah, SMAN 1 Krucil terus berkomitmen memberikan pelayanan pendidikan terbaik. Beliau menekankan bahwa tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut siswa untuk memiliki skill tinggi yang dibarengi dengan akhlak mulia.
“Kami ingin anak bangsa tidak hanya berilmu, tetapi lebih dari itu: berkarakter dan memiliki keterampilan untuk bersaing di masa depan,” ungkap pihak sekolah.

Kegiatan yang dibina langsung oleh Guru Pendidikan Agama Islam, Bapak Hasan Basri, S.Pd.I., M.Pd., ini mencakup tujuh agenda utama yang menyentuh berbagai aspek kehidupan siswa:
- Khotmil Al-Qur’an: Pembiasaan literasi kitab suci yang diikuti oleh seluruh siswa-siswi.
- Penguatan Ibadah: Pelaksanaan sholat berjamaah, baik sholat fardhu Dhuhur maupun sunnah Dhuha.
- Literasi Fiqih: Pemberian materi mendalam seputar Fiqih Ramadhan dengan menghadirkan narasumber dari KUA dan LP KB.
- Kepedulian Sosial (Zakat): Pengelolaan dan penyaluran Zakat Fitrah.
- Bazar Ramadhan: Ajang unjuk gigi program Double Track meliputi bidang Kuliner dan Tata Rias (MUA).
- Berbagi Sesama: Aksi sosial pembagian takjil kepada masyarakat.
- Santunan Anak Yatim: Kegiatan emosional berupa belanja pakaian bersama dan buka puasa bersama anak yatim.
Pondok Ramadhan ini dirancang dengan tujuan yang komprehensif. Secara spiritual, kegiatan ini bertujuan meningkatkan ketakwaan dan kecintaan pada ibadah. Secara akademik, siswa diajak mengembangkan budaya literasi Islami.
Lebih jauh lagi, kegiatan ini menanamkan Manfaat Kebangsaan. SMAN 1 Krucil ingin memastikan bahwa nilai-nilai keislaman yang moderat dapat memperkuat rasa cinta tanah air (NKRI), sehingga lahir generasi yang religius sekaligus nasionalis.
“Kami berharap apa yang telah terlaksana mampu mengubah pola pikir siswa menjadi lebih baik—menghargai ilmu, menghargai diri sendiri, dan menghargai sesama sebagai mitra dalam kehidupan berbangsa,” tutup nya. (Red**).
