PROBOLINGGO, PATROLI POS
Dosen Pascasarjana Universitas Islam Zainul Hasan (UNZAH) Genggong, Probolinggo, Muhammad Hifdzil Islam, menyampaikan pesan inspiratif saat mengisi perkuliahan S2 Fakultas Pendidikan Agama Islam di ruang Pascasarjana, Minggu (12/04/2026).
Dalam kesempatan tersebut, suasana kelas tampak hening. Para mahasiswa yang mayoritas berprofesi sebagai guru terlihat serius menyimak materi yang disampaikan. Keheningan itu bukan karena teguran atau kesalahan, melainkan karena penyampaian materi yang menyentuh dan menggugah kesadaran mereka sebagai pendidik.
Muhammad Hifdzil Islam menegaskan bahwa profesi guru merupakan amanah dari Allah SWT yang patut disyukuri. Menurutnya, tidak semua orang memiliki kesempatan menjadi guru, sehingga peran tersebut harus dijalankan secara optimal dan profesional.
Ia menjelaskan, seorang guru dapat dilihat dari kesiapan dalam mengajar. Guru yang mempersiapkan modul ajar menunjukkan kesungguhan dan profesionalitas, sedangkan yang tidak melakukannya hanya sebatas menjalankan peran tanpa kesiapan yang matang.
“Guru harus profesional untuk menciptakan peserta didik yang profesional. Tanpa kompetensi dan penguasaan metode pembelajaran, sulit bagi guru untuk mengantarkan murid mencapai keberhasilan,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya prestise dan pengembangan diri bagi guru. Menurutnya, profesionalitas dapat dibangun melalui kebiasaan berliterasi, sehingga guru mampu menjadi kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran.
Ia kemudian menyampaikan analogi yang menarik. “Jadilah guru seperti air mineral yang dijual di hotel, bukan seperti yang dijual di warung. Harganya berbeda, padahal isinya sama. Nilai seorang guru ditentukan oleh kualitas dan cara ia memposisikan diri,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mengibaratkan guru seperti seseorang yang hendak menunaikan ibadah haji, yang mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelum berangkat. Hal tersebut, menurutnya, seharusnya juga dilakukan oleh guru sebelum mengajar.
Di akhir penyampaiannya, Muhammad Hifdzil Islam menegaskan bahwa peran guru tidak dapat tergantikan oleh teknologi. “Guru tidak bisa digantikan oleh AI atau YouTube. Guru adalah penunjuk jalan. Dengan bimbingan langsung, peserta didik akan lebih cepat memahami dibandingkan hanya mengandalkan teknologi,” pungkasnya.(MD).
