PROBOLINGGO, PATROLI POS
Masjid Al-Qasem menjadi pusat diskusi intelektual yang hangat dalam agenda rutin Kajian “Nisaiyyah” yang digelar pada Rabu 15/04/2026. Forum ini dihadiri oleh jajaran dosen serta staf tenaga kependidikan perempuan di lingkungan Institut Ahmad Dahlan Probolinggo. Menghadirkan narasumber Yulina, pengamat sosial Fitri, serta didampingi oleh penanggung jawab acara Bunda Romiyati, kajian kali ini membedah secara mendalam mengenai posisi strategis perempuan dalam perspektif Islam yang berkemajuan.
Dalam pemaparannya, Yulina menegaskan bahwa Islam memberikan ruang yang sangat luas bagi perempuan untuk mengaktualisasikan diri. Ia menekankan bahwa perempuan memiliki kapasitas penuh untuk menjadi pemimpin di berbagai bidang profesi, sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an Surah An-Naml ayat 23 melalui kisah kepemimpinan Ratu Balqis yang bijaksana. Lebih lanjut, ia berpesan bahwa ibadah seorang perempuan tidak seharusnya terisolasi dalam ruang domestik atau pribadi saja. Sebaliknya, peran di ruang publik seperti aktif dalam organisasi, menjadi akademisi, hingga berkarier di instansi pemerintah merupakan bentuk pengabdian yang memiliki nilai ibadah tinggi. Hal ini selaras dengan prinsip bahwa agama Islam bersifat memudahkan dan memberikan keringanan dalam bingkai moderasi.
Diskusi berkembang semakin dinamis saat memasuki sesi tanya jawab yang membahas mengenai aturan aurat, penggunaan cadar, hingga teknis penutupan telapak tangan dalam perspektif Muhammadiyah. Menanggapi hal tersebut, Fitri memberikan ulasan dari sisi Ilmu Tarjih Sosial dengan merujuk pada keputusan Majelis Tarjih. Ia menjelaskan bahwa fokus utama dalam berpakaian adalah menjalankan nilai-nilai yang tersirat dalam Al-Qur’an, khususnya Surah An-Nur ayat 31 dan Surah Al-Ahzab. Di lingkungan Majelis Tarjih, pemaknaan lebih ditekankan pada aspek teknis yang substantif, yakni menutup dada, tidak menampakkan perhiasan secara berlebihan, serta senantiasa menundukkan pandangan. Fokusnya bukan pada kewajiban penggunaan cadar, melainkan pada bagaimana seorang muslimah mampu mengimplementasikan nilai kesopanan dan kehormatan sesuai tuntunan agama dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap hari Rabu ini merupakan langkah penting dalam menumbuhkan semangat pemberdayaan perempuan. Terhitung sejak tahun 2023 hingga saat ini, Kajian Nisaiyyah terus konsisten mengupas berbagai dimensi kehidupan sosok perempuan untuk memberikan wawasan yang mencerahkan bagi civitas akademika dan masyarakat luas. (Rudi Hartono).
