PROBOLINGGO, PATROLI POS
Suasana khidmat, penuh haru, dan sarat nilai kebersamaan mewarnai kegiatan Tasyakuran dan Pisah Kenang Kelas XII Angkatan ke-32 yang digelar Madrasah Aliyah Islamiyah Syafi’iyah (MAIS) Paiton, Sabtu (16/05/2026), di Aula Pesantren Islamiyah Syafi’iyah Paiton, Kabupaten Probolinggo.

Giat yang digelar Madrasah Aliyah yang populer dengan mottonya “Generasi Berakhlak Mulia, Unggul dan Inspiratif” tersebut menghadirkan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Dr. Samsur, dengan didampingi Kepala Seksi Pendidikan Madrasah, M. As’adi, Pengawas madrasah dan dihadiri ratusan siswa kelas XII, wali murid, dewan guru, tokoh masyarakat, dan keluarga besar Pesantren Islamiyah Syafi’iyah Paiton.
Momentum tasyakuran ini tidak sekadar menjadi seremoni pelepasan siswa, tetapi juga menjadi refleksi perjalanan pendidikan dan penguatan karakter santri dalam menghadapi masa depan. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi peneguhan implementasi Kurikulum Cinta yang saat ini terus diperkuat di lingkungan madrasah dan pesantren.
Kurikulum Cinta menitikberatkan pada pembentukan akhlak, penghormatan kepada guru dan orang tua, penguatan spiritualitas, serta terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah anak.

Dalam sambutannya, Kepala Kemenag Kabupaten Probolinggo Samsur, mengapresiasi komitmen MAIS Paiton yang bernaung di bawah Pondok Pesantren ini dalam mencetak generasi muda tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral, adab, dan karakter kuat.
Menurutnya, tantangan zaman menuntut madrasah mampu melahirkan generasi yang cerdas, adaptif, serta tetap berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman dan budaya pesantren.
“Madrasah hari ini harus mampu melahirkan generasi yang cerdas, adaptif, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai moral serta keislaman. Pendidikan karakter menjadi fondasi utama menghadapi tantangan zaman,” ujarnya.
Ia juga mendorong para lulusan untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sebagai bekal menghadapi persaingan global.
“Anak-anak harus memiliki cita-cita setinggi langit. Jangan berhenti belajar setelah lulus madrasah. Minimal harus melanjutkan pendidikan hingga jenjang S1 agar memiliki bekal ilmu, wawasan, dan daya saing di masa depan,” tegasnya.
Pria yang low profil ini menambahkan bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh ketulusan dalam menuntut ilmu serta kepatuhan kepada para guru dan masyayikh.
“Kesuksesan lahir dari ilmu yang berkah. Karena itu, santri harus tulus dalam belajar, hormat kepada orang tua, taat kepada para masyayikh, kiai, ibu nyai, dan seluruh guru yang telah mendidik dengan penuh keikhlasan,” tambahnya.
Selain penguatan akademik dan spiritualitas, Kepala Kemenag juga menegaskan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dan bebas dari perilaku negatif yang merusak masa depan generasi muda.
Ia mengajak seluruh siswa menjauhi narkoba, kekerasan, serta berbagai tindakan yang bertentangan dengan nilai moral dan ajaran agama.
Sementara itu, Kasi Pendidikan Madrasah, M. As’adi, menegaskan bahwa madrasah saat ini terus diarahkan menjadi lembaga pendidikan yang humanis, ramah anak, dan bebas dari praktik bullying maupun kekerasan.
Menurutnya, suasana belajar yang aman dan nyaman menjadi syarat penting dalam membangun generasi yang percaya diri, kreatif, dan memiliki empati sosial tinggi.
“Madrasah harus menjadi rumah kedua yang aman dan membahagiakan bagi peserta didik. Tidak boleh ada bullying, kekerasan verbal, maupun diskriminasi. Pendidikan karakter dan Kurikulum Cinta harus benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari di madrasah,” ujarnya.
Pihak madrasah juga menegaskan komitmennya dalam menjaga kultur pesantren yang humanis dan mendidik melalui penguatan nilai akhlakul karimah, budaya disiplin, serta pendidikan berbasis kasih sayang.
Konsep pesantren ramah anak dan madrasah tanpa bullying terus diperkuat sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan pendidikan yang sehat, religius, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik secara optimal.
Acara tasyakuran berlangsung penuh haru dengan rangkaian doa bersama, penampilan kreativitas siswa, serta penyampaian pesan dan kesan dari perwakilan kelas XII. Banyak siswa dan wali murid tampak terharu mengenang perjalanan pendidikan selama menempuh proses belajar di MAIS Paiton.
Sebagai madrasah rujukan berbasis karakter, MAIS Paiton terus berupaya memperkuat kualitas pendidikan yang seimbang antara ilmu pengetahuan, spiritualitas, dan pembinaan akhlak. Melalui penguatan Kurikulum Cinta, budaya pesantren ramah anak, serta pendidikan anti bullying dan anti narkoba, madrasah berharap para lulusan mampu menjadi generasi paripurna yang unggul secara intelektual, kuat secara spiritual, santun dalam perilaku, dan siap mengabdi untuk agama, bangsa, dan masyarakat. (Mp/Red**).
