PROBOLINGGO, PATROLI POS
Pondok Pesantren (PP) Fatahillah Ibnu Nizar terus memperkuat sistem pendidikan berbasis mutu, karakter, dan kemandirian dalam pengelolaan lembaga pesantren modern bercorak salaf. Pesantren yang berdiri sejak tahun 2005 sebagai cabang dari lembaga sebelumnya itu kini berkembang dengan jumlah santri mencapai sekitar 200 santri putra dan lebih dari 400 santri putri. Selasa 19/05/2026.
Di bawah kepemimpinan pengasuh pesantren, lembaga ini mengelola satuan pendidikan berbasis pesantren melalui Program Pendidikan Kesetaraan pada Pondok Pesantren Salafiyah (PKPPS). Namun, seiring arah pengembangan kelembagaan dan kebijakan pendidikan pesantren nasional, PP. Fatahillah Ibnu Nizar tengah melakukan transformasi menuju Satuan Pendidikan Mu’adalah (SPM) pada jenjang Wustha dan Ulya.
Transformasi tersebut dilakukan menyusul pemberlakuan PKPPS hingga tahun 2027. Dalam proses penyesuaian kelembagaan, jenjang PKPPS Ula akan dihapus, sedangkan pengembangan pendidikan difokuskan pada penguatan sistem Mu’adalah di tingkat Wustha dan Ulya agar memiliki tata kelola, kurikulum, dan sistem penjaminan mutu yang lebih terstandarisasi.
“Kami ingin membangun pendidikan pesantren yang berkualitas namun tetap mudah dijangkau oleh masyarakat menengah ke bawah tanpa memberatkan wali santri,” tegas pengasuh pesantren yang juga pernah menempuh pendidikan di Makkah Al-Mukarramah.
Menurutnya, pengembangan kelembagaan pesantren selama ini sebagian besar bertumpu pada dukungan masyarakat, baik melalui donatur independen maupun swadaya masyarakat. Saat ini, pesantren juga tengah melakukan pembangunan sejumlah fasilitas guna menunjang kenyamanan dan kebutuhan belajar santri.
Salah satu program unggulan pesantren terdapat pada santri putri melalui program tahfidz Al-Qur’an. Setiap tahun, minimal 10 santri berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an sebagai bagian dari penguatan pendidikan keagamaan dan pembentukan karakter santri.
Dalam sistem pembelajaran kitab kuning, pesantren menerapkan pola kajian yang mengadopsi metode pendidikan pesantren besar di Jawa Timur. Untuk santri putra, metode pembelajaran mengacu pada tradisi keilmuan Pondok Pesantren Sidogiri, sedangkan santri putri mengadopsi sistem pembelajaran ala Salafiyah Bangil. Selain itu, tenaga pendidik di pesantren melibatkan para alumni senior dari berbagai pesantren ternama guna menjaga kualitas pengajaran dan pembinaan santri.
Menariknya, PP. Fatahillah Ibnu Nizar juga dikenal sebagai pesantren berbasis lingkungan atau eco pesantren. Program tersebut pernah meraih penghargaan tingkat Jawa Timur dan mendapat perhatian pemerintah sebagai model pengelolaan pesantren ramah lingkungan. Sementara berbagai pengembangan lainnya dilakukan secara mandiri dan berbasis swadaya masyarakat.
Pesantren ini juga menerapkan kebijakan seleksi masuk dengan tidak menerima santri yang belum menyelesaikan pendidikan dasar setingkat SD/MI. Kebijakan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan peserta didik dalam mengikuti sistem pendidikan pesantren dan pendidikan Mu’adalah yang diterapkan.
Sementara itu, pihak Kantor Wilayah Kementerian Agama menegaskan pentingnya pengelolaan yayasan secara profesional dan terstandarisasi sesuai regulasi pendidikan nasional. Dalam arahannya, perwakilan Kanwil menyampaikan bahwa pesantren perlu memperkuat tata kelola kelembagaan, kualitas tenaga pendidik, serta sistem penjaminan mutu pendidikan.
“Pengelolaan yayasan harus dilakukan dengan baik, termasuk mempersiapkan guru yang berkualitas sesuai Standar Nasional Pendidikan. Negara ingin apa yang ada di pesantren dapat diakui dan diterima masyarakat sebagaimana lembaga pendidikan formal,” ujarnya.
Ia juga mencontohkan hasil studi banding yang pernah dilakukan ke Pondok Modern Darussalam Gontor sekitar tahun 2006–2007. Menurutnya, keberhasilan pesantren besar tidak lepas dari sistem kelembagaan yang tertata, mulai dari pengelolaan keuangan, unit usaha sekolah, hingga usaha pondok pesantren yang mampu menciptakan sumber pendapatan mandiri serta membentuk karakter santri yang kuat.
Selain itu, pengurus yayasan diharapkan mampu melibatkan unsur masyarakat, pelaku ekonomi, dan pemerintah dalam proses pengembangan kelembagaan agar pesantren memiliki daya dukung yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Pengasuh pesantren, KH. Nabil Nizar, menyampaikan bahwa pihaknya terus berupaya mengembangkan manajemen kelembagaan dengan mencontoh sistem tata kelola Pondok Pesantren Nurul Jadid, terutama dalam pembentukan biro pendidikan, biro keuangan, dan biro kepesantrenan.
Dalam penguatan kelembagaan, pesantren juga mulai melengkapi berbagai instrumen administrasi pendidikan, di antaranya data pendidik dan tenaga kependidikan, kalender pendidikan masing-masing jenjang, struktur organisasi, kurikulum berbasis penjaminan mutu, hingga denah lokasi dan dokumentasi kegiatan santri. Setiap jenjang pendidikan dipimpin oleh kepala satuan pendidikan yang berbeda sesuai fungsi dan kewenangannya.
Selain itu, pengembangan lembaga diarahkan agar memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) serta delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP), meliputi standar isi, standar kompetensi lulusan, standar proses, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, serta standar penilaian pendidikan. Pesantren juga didorong menyusun rencana strategis jangka menengah sebagai pijakan pengembangan kelembagaan yang berkelanjutan.
Dari sisi sarana, lembaga diharapkan memiliki ruang pembelajaran yang representatif, ruang kepala satuan pendidikan, serta ruang guru yang memadai guna menunjang pelayanan pendidikan secara profesional.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tim PDMA Jawa Timur, Maimun, didampingi Kasi PD Pontren Kabupaten Probolinggo bersama tim turut memberikan motivasi terkait penguatan karakter santri dan penyusunan alur pendidikan yang terstandarisasi. Mereka menekankan bahwa tanggung jawab besar dalam menjaga kualitas pesantren berada di tangan pengasuh dan pengurus yayasan.
Dengan penguatan tata kelola, peningkatan mutu pendidikan, serta dukungan masyarakat, PP. Fatahillah Ibnu Nizar diharapkan terus berkembang sebagai pesantren yang mampu memadukan tradisi keilmuan salaf, pendidikan karakter, kepedulian lingkungan, dan manajemen kelembagaan modern. (Mp/Red**).
