PROBOLINGGO, PATROLI POS
Menjangkau lembaga pendidikan keagamaan hingga wilayah kepulauan, Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo melakukan pembinaan terhadap sejumlah Madrasah Diniyah di Pulau Gili Ketapang. Selain pembinaan kelembagaan, kegiatan tersebut dirangkai dengan sosialisasi Education Management Information System (EMIS) dan penguatan pemahaman tentang Madrasah Ramah Anak. Rabu 07/10/2026.
Kegiatan dipusatkan di kediaman H. Ahmad, pengelola Madrasah Diniyah Zainul Islam, salah satu lembaga binaan yang berada di Pulau Gili Ketapang. Kehadiran jajaran Kemenag Kabupaten Probolinggo di wilayah kepulauan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi, pembinaan, dan tata kelola Madrasah Diniyah secara langsung di tingkat lembaga.

Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag Kabupaten Probolinggo, Ansori, hadir bersama operator EMIS, Sholahuddin. Turut hadir Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Probolinggo, Gus Ubaidillah, bersama tim, serta Penyuluh Agama KUA Sumberasih, Rahmad Wahyudi.
Pembinaan diikuti para kepala Madrasah Diniyah yang berada di Pulau Gili Ketapang. Mereka antara lain Ustadz Samsul Hadi dari Madrasah Diniyah Nurul Huda, H. Samsul dari Madrasah Diniyah Nurul Ulum, Ustadz Slamet dari Madrasah Diniyah Husnul Hitam, Ustadz Saturi dari Madrasah Diniyah Nurul Islam, Ustadz Darus dari Madrasah Diniyah Darus Salam, serta Ustadz Agus dari Madrasah Diniyah Nurul Falah.
Salah satu agenda utama kegiatan adalah sosialisasi dan pendampingan pengelolaan data melalui EMIS. Sistem tersebut menjadi instrumen penting dalam mendukung tertib administrasi dan ketersediaan data pendidikan keagamaan yang akurat, lengkap, dan mutakhir.
Dalam konteks pengelolaan lembaga pendidikan, data bukan sekadar kebutuhan administratif. Data yang valid menjadi basis penting dalam pemetaan kondisi lembaga, penyusunan program, pengambilan kebijakan, hingga evaluasi penyelenggaraan pendidikan.
Karena itu, para pengelola Madrasah Diniyah didorong untuk memberikan perhatian terhadap ketepatan dan pemutakhiran data lembaga melalui EMIS. Pendampingan secara langsung diharapkan dapat membantu lembaga memahami aspek teknis sekaligus meningkatkan kesadaran bahwa tata kelola data merupakan bagian integral dari penguatan kelembagaan.
Kehadiran operator EMIS dalam kegiatan tersebut juga membuka ruang konsultasi langsung bagi para pengelola Madrasah Diniyah terhadap berbagai persoalan teknis yang dihadapi dalam pengelolaan data.
Mendorong Madrasah yang Ramah Anak
Selain penguatan administrasi dan digitalisasi data, pembinaan juga memberikan perhatian pada implementasi konsep Madrasah Ramah Anak.
Madrasah tidak hanya dituntut mampu memberikan layanan pendidikan keagamaan, tetapi juga perlu memastikan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan menghargai hak serta martabat peserta didik.
Prinsip ramah anak menjadi penting karena proses pendidikan pada hakikatnya tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter, pengembangan potensi, serta perlindungan peserta didik selama berada dalam lingkungan pendidikan.
Melalui sosialisasi tersebut, para pengelola Madrasah Diniyah diharapkan semakin memahami pentingnya membangun pola pendidikan yang mengedepankan pendekatan positif, penghormatan terhadap anak, serta lingkungan pembelajaran yang bebas dari kekerasan dan perlakuan diskriminatif.
Menjangkau Lembaga di Wilayah Kepulauan
Pembinaan Madrasah Diniyah di Pulau Gili Ketapang juga memperlihatkan pentingnya kehadiran pembina dan pemangku kepentingan pendidikan secara langsung di tengah masyarakat.
Kondisi geografis kepulauan dengan karakteristik akses yang berbeda dari wilayah daratan menuntut pola pembinaan yang adaptif. Pertemuan langsung menjadi ruang strategis untuk menyerap persoalan yang dihadapi lembaga sekaligus menyampaikan kebijakan dan program pembinaan secara lebih efektif.
Kolaborasi antara Kemenag Kabupaten Probolinggo, FKDT, operator EMIS, penyuluh agama, dan para pengelola Madrasah Diniyah menjadi modal penting dalam memperkuat ekosistem pendidikan keagamaan di Pulau Gili Ketapang.
Kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi berlanjut dalam bentuk pendampingan dan penguatan kapasitas lembaga. Dengan demikian, Madrasah Diniyah di wilayah kepulauan dapat terus berkembang dengan tata kelola yang semakin baik, data kelembagaan yang semakin tertib, serta lingkungan pendidikan yang semakin aman dan ramah bagi anak.
Pembinaan dengan menyeberangi lautan ini pada akhirnya menegaskan bahwa penguatan pendidikan keagamaan perlu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk lembaga-lembaga yang berada di wilayah kepulauan. Kehadiran negara melalui pembinaan pendidikan menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa akses terhadap peningkatan mutu dan tata kelola pendidikan tidak dibatasi oleh kondisi geografis. (Mp/Red**).
