LUMAJANG, PATROLIPOS – Dampak hujan berhari-hari yang berakibat banjir bandang di wilayah Lumajang tepatnya di aliran sungai Mujur, menyisakan puing-puing pondasi jembatan penghubung desa Tumpeng – Kloposawit kecamatan Candipuro yang ambrol diterjang banjir bandang, Jum’at (07/07/2023).
Bersumber dari informasi warga yang mengetahui kronologi ambrolnya Jembatan penghubung desa Tumpeng – Kloposawit tersebut, dikatakan kepada awak media bahwa ambrolnya Jembatan berawal dari tumbangnya pohon besar di barat jembatan yang diterjang banjir bandang dan menyumbat kolong jembatan. “Pohon besar itu tumbang diterjang banjir, karena besarnya akhirnya menyumbat jembatan dan akibatnya banjir bandang meluap ke kanan kiri jembatan”, katanya.
“Masih beruntung jembatan itu ambrol, kalau nggak ambrol habis sudah lokasi kanan kiri jembatan dan mungkin air masuk ke kawasan penduduk. Sudah dua kali ini jembatan disini ambrol, dulu sekitar tahun 1994 jembatan lama itu ambrol dan sekarang ini. Sungainya kembali ke posisi lama yaitu di tengah, kalau kemarin kan nyerong ke Utara sekarang sudah ke posisi awal di tengah”, ungkapnya.
Beda lagi di dusun Kaliputih, desa Nguter, kecamatan Pasirian, semalam warganya ngungsi di balaidesa Tumpeng, kecamatan Candipuro. Luapan air sudah masuk ke kawasan penduduk, bahkan ada kandang ternak yang terseret banjir tersebut. Dusunnya sudah kosong penghuni lantaran takut ada banjir susulan yang lebih besar, dikabarkan bahwa jembatan cekdamnya juga sudah ambrol, akses jalan Tumpeng menuju desa Gesang kecamatan Tempeh putus karena tertutup lumpur dan genangan air.
Dikatakan Yasiri warga dusun Kaliputih kepada awak media saat menjenguk keluarganya yang mengungsi di balaidesa Tumpeng, bahwa keluarganya beserta warga yang lainnya mengungsi lantaran takut ada banjir susulan yang lebih besar. “Ini saya lagi nyambangi keluarga dan ngirim kopi untuk orang-orang yang ngungsi, takut banjir datang lagi yang lebih besar. Hujannya lho masih nggak reda sampai saat ini, jembatan penghubung ke Nguter lho ambrol, terus jalannya gak bisa dilewati tertutup lumpur dan genangan air”, ungkap Yasiri.
Warga yang lain juga mengatakan, bahwa dirinya takut terulang saat kejadian yang sama tahun 1981an yang memporak porandakan dusunnya saat diterjang lahar. “Takut seperti lahar yang dulu pak, rata semua dan banyak korban saat itu. Pak bupati (Thoriqul Haq) tadi malam sekitar jam 01 juga kesini mengunjungi pengungsi, begitu itu yang kami suka, bupati yang peduli rakyatnya yang kena musibah. Meskipun malam beliau masih mau mengunjungi kita yang mengungsi, begitu bupati yang peduli rakyatnya”, Pungkasnya. (Jwo)
