MOJOKERTO, PATROLI POS
Penguatan tata kelola pondok pesantren berbasis data dan standar mutu terus menjadi perhatian Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur. Hal ini ditegaskan dalam kegiatan “Penguatan Tata Kelola dan Layanan Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Berbasis Data dan Standar Mutu” yang diselenggarakan di Arayanna Hotel & Resort Mojokerto. Rabu, (1/4/2026).
Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, Dr. Akhmad Sruji Bahtiar, yang dalam arahannya menekankan pentingnya penerapan manajemen modern berbasis konsep POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) sebagai tolok ukur kualitas pondok pesantren.
Pada aspek perencanaan (planning), Bahtiar menegaskan bahwa pesantren harus memiliki arah yang jelas, baik tujuan maupun strategi pengembangannya. “Pesantren harus menentukan arah, mau dibawa ke mana dan untuk siapa. Perencanaan yang matang akan memperkuat fungsi pendidikan, pengkaderan, dan pemberdayaan,” ujarnya.
Pada aspek pengorganisasian (organizing), ia menekankan pentingnya tata kelola kelembagaan yang terstruktur dan profesional. Mulai dari pengasuh hingga jajaran pengurus harus memiliki peran yang jelas, didukung visi dan misi yang kuat serta regulasi sebagai pedoman dalam menjalankan organisasi.
“Struktur organisasi harus jelas, disesuaikan dengan visi dan misi, serta diisi oleh sumber daya manusia yang kompeten. Tanpa tata kelola yang baik, SDM yang ada tidak akan optimal,” tegasnya.
Lebih lanjut, Bahtiar menyoroti pentingnya penempatan SDM yang tepat dan profesional sesuai kompetensi. Ia juga menekankan perlunya kejelasan job description dan standar operasional prosedur (SOP) agar program berjalan efektif dan terarah.
Pada aspek pelaksanaan (actuating) dan pengawasan (controlling), Bahtiar menegaskan bahwa implementasi program harus disertai dengan pengawasan yang berkelanjutan. Fungsi kontrol menjadi penting untuk mengidentifikasi kendala di lapangan sekaligus merumuskan solusi yang tepat.
“Pengawasan diperlukan agar kita mengetahui hambatan dan segera mengambil langkah solutif,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis masyarakat harus mampu menjawab kebutuhan umat dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Hal ini menuntut penguatan kapasitas intelektual serta kemampuan analisis dalam membaca berbagai dinamika yang berkembang.
Selain itu, Bahtiar menekankan pentingnya kualitas data sebagai basis utama dalam pengambilan kebijakan. Data yang valid, mutakhir, dan akurat akan memastikan kebijakan yang diambil tepat sasaran dan tidak merugikan masyarakat.
“Tugas kita adalah jemput bola, mendatangi pesantren untuk memastikan data terinput dengan baik dalam EMIS. Data yang berkualitas menjadi dasar pengambilan keputusan,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan harapannya terhadap penguatan kelembagaan pesantren ke depan, termasuk dukungan regulasi yang tengah berproses di tingkat pusat guna memperkuat peran pesantren dalam sistem pendidikan nasional.
Menutup arahannya, Bahtiar menegaskan pentingnya komunikasi yang baik, sinergi, serta mentalitas yang kuat dalam membangun pesantren yang mandiri dan berkualitas.
“Kita ingin memastikan layanan kepada masyarakat berbasis pesantren berjalan optimal dan berdampak nyata,” pungkasnya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum strategis dalam memperkuat tata kelola pesantren yang profesional, adaptif, dan berbasis data, guna mewujudkan madrasah diniyah yang maju serta pondok pesantren yang mandiri dan berkualitas.(Mp/Red**).
