SURABAYA, PATROLI POS
Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur terus berkomitmen mewujudkan pesantren yang tangguh menghadapi bencana. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kanwil Kemenag Jatim, Dr. Imam Turmudi, dalam kegiatan bertema “Peran Kementerian Agama dalam Mewujudkan Pesantren Tahan Bencana”, Selasa (28/10/2025).

Dalam paparannya, Dr. Imam Turmudi menegaskan bahwa pesantren memiliki peran strategis tidak hanya sebagai lembaga pendidikan dan dakwah, tetapi juga dalam pemberdayaan masyarakat, termasuk kesiapsiagaan terhadap bencana. “Dari data yang disampaikan Gus Ghofirin, puluhan ribu pesantren di Indonesia semuanya swasta, tidak ada yang negeri. Namun kontribusinya luar biasa besar bagi bangsa. Karena itu, pesantren jangan dipandang sebelah mata,” tegasnya.
Imam Turmudi juga menyoroti minimnya alokasi dana pendidikan bagi pesantren. Dari total Rp660,8 triliun dana fungsi pendidikan nasional pada tahun 2024, hanya sekitar 0,2 persen yang dialokasikan untuk lebih dari 43.000 pondok pesantren di seluruh Indonesia. “Santri yang mondok itu belajar mandiri dan berjuang. Maka sudah selayaknya kita memberikan apresiasi dan perhatian lebih kepada para kiai dan pesantren yang telah berkontribusi besar bagi bangsa dan negara ini,” tambahnya.
Terkait peristiwa bencana di Pondok Pesantren Al Khoziny, ia menilai bahwa perhatian pemerintah dan kolaborasi lintas instansi sudah semakin baik. “Kasus Al Khoziny membuka mata banyak pihak. Syukurlah, pemerintah dan semua instansi kini kompak turun tangan,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan dari pesantren, Gus Irawan, menyampaikan apresiasi terhadap program Pesantren Tangguh Bencana (Pestana) yang digagas Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. “Program Pestana ini luar biasa sebagai bentuk perhatian nyata pemerintah terhadap pesantren. Kami bersinergi dengan Dinsos, Tagana, BPBD, dan Pramuka dalam langkah-langkah siaga bencana di Pomosda,” tutur Gus Irawan.
Ia menambahkan, kesiapsiagaan bencana di lingkungan pesantren harus dijalankan dengan pendekatan manajemen bencana yang menyeluruh, meliputi tahap pra-bencana, tanggap darurat, hingga pasca-bencana. “Bukan hanya fasilitas yang perlu disiapkan, tetapi juga SDM yang profesional dan terlatih dalam menghadapi kondisi darurat,” imbuhnya.
Melalui kegiatan ini, Kementerian Agama Jawa Timur berharap pesantren semakin diperhitungkan dalam pembangunan nasional, termasuk dalam bidang mitigasi dan penanggulangan bencana. “Pesantren adalah bagian dari Indonesia. Anak pesantren adalah anak bangsa. Maka perhatian negara terhadap pesantren harus semakin besar,” pungkas Dr. Imam Turmudi.
Semoga bermanfaat buat pesantren dan masa depan Indonesia. Mp/Red**
