LUMAJANG, PATROLIPOS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang, Jawa Timur memberikan ketentuan atau ketetapan terkait adanya Gerakan Sekolah Mengaji (GSM) di SD dan SMP, yang artinya sekolah tersebut harus ada serta sudah menjadi bagian pendidikan keagamaan. Sekarang Pendidikan Diniyahnya ada di sekolah, pelajaran membaca Al Qur’annya dan pelajaran Tahfidznya juga ada di sekolah tingkat SD dan SMP. Hal tersebut dijelaskan bupati Lumajang Thoriqul Haq (Cak Thoriq) dalam acara Peluncuran Gerakan Sekolah Mengaji (GSM) 2023 di Gedung Soejono Lumajang, Senin (20/03/2023).
Dalam hal ini, SMP Negeri 1 Senduro Lumajang dibawah komando Agus Soleman selaku kepala sekolah, sesuai dengan anjuran kepala Dinas Pendidikan kabupaten Lumajang bahwa dalam semester ini harus sudah melaksanakan program GSM. “Memang latarbelakangnya itu fenomena yang terjadi sekarang ini, dengan adanya kenakalan remaja yang pertama, kemudian yang kedua sekolah umum itu dianggapnya seolah-olah tidak melaksanakan pembelajaran agama. Sedangkan kita sendiri sudah melaksanakan, cuman gaungnya yang tidak terdengar di masyarakat. Sebenarnya itu sudah jalan, sayapun sudah jalan sejak setahun kemarin sebelum launching GSM ini”, ujar Agus.
“Sebelumnya saya sudah melaksanakan bekerjasama dengan Bahrusyifa’ Bagusari Lumajang, mendatangkan untuk kerjasama ekstrakurikuler setiap hari Sabtu. Kemudian sekarang dengan adanya GSM ini sudah betul-betul resmi dilaunching oleh bupati, kita kerjasama dengan Jamqur (Jami’atul Qurra’ wal Huffadz) sesuai dengan rekomendasi dari dinas pendidikan atas persetujuan dari bupati. Untuk tenaganya 13 orang setiap datang, Satu Minggu 3 kali. Sementara yang ikut program ini kita awali kelas 7 dan kelas 8, karena kelas 9 kan sudah selesai. Jumlah siswa sekitar tiga ratusan, dan kami juga bekerjasama dengan komite sekolah. Kegiatan ini masuk di Kokurikuler bukan ekstrakurikuler lagi, yang ekstrakurikuler tetap jalan. Untuk program GSM mulai besok sudah jalan, pagi itu sudah disini, jadi setelah sholat Dhuha tenaga dari Jamqur sudah disini”, tambah Agus, Senen (15/05/2023).
Masih kata Agus, bahwa Gerakan Sekolah Mengaji ini adalah merupakan program wajib bagi siswa yang beragama Islam, GSM di SMPN 1 Senduro bekerjasama dengan lembaga Jami’atul Qurra’ wal Huffadz (JQH) yang sudah bekerjasama dengan dinas pendidikan kabupaten Lumajang. Sasaran GSM adalah seluruh siswa kelas 7, 8 dan 9 yang beragama Islam, GSM SMPN 1 Senduro dilakukan secara serempak di kelas masing-masing, 3 X dalam 1 Minggu selama 60 menit setelah sholat Dhuha. Sebagai langkah awal GSM ini dilaksanakan di kelas 7 (7 kelas paralel) dan kelas 8 (6 kelas paralel) dengan jumlah 335 siswa, siswa dikelompokkan sesuai dengan kemampuan baca tulis Al Qur’an yang dipetakan oleh tenaga ahli. Setiap 2 bulan siswa diharapkan naik ke jilid selanjutnya dan mendapatkan buku/jilid.
“Sebenarnya untuk sebelum GSM ini sudah bagus cuma masih belum maksimal, yang ikut cuma berapa anak, masih bisa dihitung dengan jari, artinya yang minat cuma yang betul-betul kepingin bisa baca tulis Qur’an. Sedangkan murid kita tiga ratusan anak itu sangat minim kemampuan baca tulis Qur’an, sedangkan kalau kita amalkan barokahnya Qur’an itu luar biasa. Jadi bagaimana kenakalan anak itu bisa diminimalisir, sampai saat ini kalau ada anak nakal itu kita arahkan saya suruh hafal surat-surat pendek Al Qur’an sebagai sanksinya dan ternyata hasilnya lumayan, kenakalan anak sudah mulai berkurang”, pungkas Agus. (Jwo)
