Probolinggo, Patrolipos
Di tengah gemuruh teknologi dan arus informasi digital, kegemaran membaca buku seringkali menjadi hal yang terpinggirkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, keberadaan perpustakaan desa tetap menjadi salah satu bentuk warisan budaya yang penting dalam memelihara keberagaman pengetahuan dan membentuk kegemaran membaca sejak dini. Untuk itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Probolinggo, bersama dengan program Tim Penggerak PKK Kabupaten Probolinggo, telah menyelenggarakan sosialisasi transformasi perpustakaan desa berbasis inklusi sosial di Desa Jorongan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Selasa (26/03/24)

Dalam kegiatan tersebut di hadiri oleh Sekcam Leces. Nelly Fatmawati, S.stp, MSI, sekertaris Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan kabupaten Probolinggo. Mohammad Abduh Ramin, Ap, MSI, Pustakawan. Yudo Kurniawan, S.i.Pust, Kepala Desa Jorongan Ahmad Yani, Babinsa Dan Babinkamtibmas Desa Jorongan, Tim Penggerak PKK Desa Jorongan, Kader Desa Jorongan, Perangkat Desa Serta Yang Hadir Lainnya.
Transformasi perpustakaan desa bukanlah sekadar memperbaharui tata letak rak buku atau memperbarui koleksi bacaan. Lebih dari itu, transformasi ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang ramah dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa memandang usia, gender, atau latar belakang sosial-ekonomi. Melalui pendekatan ini, diharapkan minat dan kegemaran membaca dapat dihidupkan kembali, dan pengetahuan dapat tersebar merata di seluruh pelosok desa.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah pembentukan klub membaca berbasis komunitas. Klub ini tidak hanya menjadi tempat untuk berbagi dan berdiskusi tentang buku-buku yang telah dibaca, tetapi juga menjadi wadah untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman antar anggota. Dengan demikian, pembelajaran tidak lagi terpaku pada pembacaan secara individual, melainkan melalui kolaborasi dan interaksi sosial yang positif.
Selain itu, perpustakaan desa juga akan diperkaya dengan program-program kreatif dan edukatif, seperti lokakarya menulis, pertunjukan teater, dan pelatihan keterampilan bagi anak-anak maupun dewasa. Dengan cara ini, perpustakaan desa tidak hanya menjadi tempat untuk membaca, tetapi juga menjadi pusat kegiatan yang menarik dan mendidik bagi seluruh keluarga.
Tidak dapat dipungkiri bahwa tantangan besar dalam mewujudkan transformasi perpustakaan desa adalah keterbatasan sumber daya, baik dalam hal dana maupun tenaga. Namun, dengan semangat gotong royong dan kerjasama antar instansi seperti yang ditunjukkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Probolinggo dan Tim Penggerak PKK Kabupaten Probolinggo, diharapkan bahwa perpustakaan desa dapat menjadi motor penggerak bagi peningkatan minat dan kegemaran membaca masyarakat.
Dalam penyampaiannya sekertaris Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan kabupaten Probolinggo. Mohammad Abduh Ramin, Ap, MSI, mengatakan, dengan demikian, transformasi perpustakaan desa berbasis inklusi sosial di Desa Jorongan menjadi langkah awal yang penting dalam membangun budaya literasi yang kuat dan berkelanjutan di tingkat lokal. Semoga inisiatif ini dapat menjadi contoh inspiratif bagi Kader Kader Desa Ataupun Kepada Tim Penggerak PKK Desa Jorongan dan juga desa-desa lain di seluruh Indonesia untuk terus menghidupkan kecintaan pada membaca dan pengetahuan. Ujarnya.
Reporter : Sayful
Editor : Sulis Riyanto
