PERAN KETELADANAN GURU DALAM PROSES SOSIALISASI ISLAM PADA PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK
Dian Istiqomah
Universitas Muhammadiyah Surabaya dianmis2018@gmail.com
Zainal Arifin
Universitas Muhammadiyah Surabaya
Zainalarifin@um-surabaya.ac.id
Abstract
Teacher role-modelling is one of the most effective methods in shaping students’ character within the framework of Islamic education. This study aims to analyze the role of teacher role-modelling in the socialization process of Islamic values for character formation using the sociology of education approach. Employing a qualitative library research method, this study examines the theories of role-modelling, Islamic value socialization, and teacher–student interaction dynamics. The results indicate that teacher role-modelling significantly influences three mechanisms of value socialization: imitation, identification, and habituation. Characters such as discipline, manners, honesty, and responsibility are more effectively internalized when teachers consistently provide moral and behavioral examples through daily interactions. A religious school environment further supports the internalization process of Islamic values. This study concludes that strengthening students’ Islamic character is highly dependent on the moral integrity of teachers and a value-based school culture.
Keywords: teacher role-modelling, Islamic values, socialization, character formation, Islamic education.
Abstrak
Keteladanan guru merupakan salah satu metode pendidikan yang paling efektif dalam membentuk karakter anak dalam perspektif pendidikan Islam. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran keteladanan guru dalam proses sosialisasi nilai Islam pada pembentukan karakter peserta didik dengan pendekatan sosiologi pendidikan. Menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka (library research), penelitian ini mengkaji teori keteladanan, proses sosialisasi nilai Islam, serta dinamika hubungan guru–siswa dalam pembentukan karakter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keteladanan guru berperan signifikan dalam tiga mekanisme sosialisasi nilai: imitasi, identifikasi, dan habituasi. Karakter seperti kedisiplinan, adab, kejujuran, dan tanggung jawab mampu terbentuk lebih kuat ketika guru memberikan teladan konsisten dalam interaksi sosial maupun akademik. Lingkungan sekolah yang religius turut mempercepat internalisasi nilai Islam dalam diri peserta didik. Studi ini menegaskan bahwa penguatan karakter Islami sangat bergantung pada integritas moral guru dan budaya sekolah yang mendukung.
Kata Kunci: keteladanan guru, nilai Islam, sosialisasi, pembentukan karakter, pendidikan Islam.
A. PENDAHULUAN
Pendidikan Islam menempatkan pembentukan karakter sebagai prioritas utama. Dalam konteks sosiologi pendidikan, sekolah dipahami sebagai lembaga sosial yang memiliki fungsi mentransmisikan nilai, budaya, dan norma kepada generasi muda. Guru menjadi agen sosialisasi yang paling berpengaruh karena keberadaannya yang dominan dalam interaksi pembelajaran. Keteladanan guru (uswah hasanah) merupakan metode yang tidak hanya bersifat instruksional, tetapi juga transformatif melalui praktik langsung.
Perkembangan teknologi, perubahan budaya, dan tantangan moral global menuntut guru untuk tidak hanya menjadi penyampai materi, tetapi juga sebagai figur moral. Ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan guru berdampak pada lemahnya pembentukan karakter siswa. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk memahami bagaimana keteladanan guru bekerja dalam mekanisme sosialisasi nilai Islam dan bagaimana proses tersebut berkontribusi terhadap karakter siswa secara sosiologis.
Pendidikan dipandang sebagai sarana strategis dalam mengembangkan kecerdasan sekaligus membentuk kepribadian individu ke arah yang lebih positif. Kepribadian peserta didik yang kokoh dan berorientasi pada sikap optimis merupakan faktor penting dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan, baik pada ranah personal, sosial, maupun akademik. Permasalahan muncul ketika proses pendidikan lebih menitikberatkan pada aspek kognitif semata, sementara pembinaan karakter serta internalisasi nilai-nilai belum mendapat perhatian yang memadai. Kondisi tersebut berimplikasi pada terjadinya penurunan kualitas moral yang dapat bermuara pada meningkatnya pelanggaran terhadap norma dan nilai sosial dalam kehidupan bermasyarakat. (Burhan Burhan et al 2023: 450).
Pada masa kini, dunia pendidikan dihadapkan pada berbagai persoalan yang kompleks, di antaranya meningkatnya kenakalan remaja, tindakan tawuran, sikap tidak hormat terhadap pendidik, serta penyalahgunaan narkotika. Berbagai permasalahan tersebut merupakan tantangan serius yang menuntut perhatian khusus dalam penyelenggaraan pendidikan. Apabila kondisi ini tidak ditangani secara tepat, maka dapat menimbulkan dampak yang signifikan terhadap pola pikir, sikap, karakter, dan perilaku peserta didik, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Terlebih lagi, pada usia sekolah dan masa remaja, individu berada dalam fase pencarian jati diri, memiliki kebutuhan akan pengakuan sosial, serta tengah mengalami proses transisi menuju kedewasaan. Oleh karena itu, diperlukan perumusan dan penerapan strategi yang efektif dan berkelanjutan untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut. (Muhammad Abdullah 2022: 66–75).
Sosiologi pendidikan merupakan salah satu cabang ilmu yang mengkaji keterkaitan antara proses pendidikan dan dinamika kehidupan sosial. Maksum menjelaskan bahwa sosiologi pendidikan berfungsi sebagai pendekatan sosiologis yang dimanfaatkan untuk menjawab berbagai persoalan mendasar dalam dunia pendidikan. Melalui kajian ini, berbagai dimensi sosial dalam penyelenggaraan pendidikan dapat dianalisis secara sistematis, termasuk kontribusi sistem
pendidikan dalam pembentukan karakter peserta didik. Selain itu, sosiologi pendidikan menelaah pengaruh faktor-faktor sosial, seperti lingkungan keluarga, pergaulan sebaya, dan kondisi sekolah, terhadap perkembangan kepribadian individu dalam proses pembelajaran.
Salah satu unsur penting dari proses kependidikan adalah pendidik. Di pundak pendidik terletak tanggung jawab yang amat besar dalam upaya mengantarkan peserta didik ke arah tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Hal ini disebabkan pendidikan merupakan cultural transition yang bersifat dinamis ke arah suatu perubahan secara kontiniu, sebagai sarana vital bagi membangun kebudayaan dan peradaban umat manusia. Dalam hal ini, pendidik bertanggung jawab memenuhi kebutuhan peserta didik, baik spiritual, intelektual, moral, estetika maupun kebutuhan pisik peserta didik, (Samsul, 2002 : 41).
Dalam kajian ini, penulis menguraikan peranan sosiologi pendidikan dalam penguatan karakter peserta didik melalui penerapan manajemen pendidikan. Pembahasan mencakup konsep sosiologi pendidikan, pendidikan karakter, manajemen pendidikan, serta implementasi manajemen pendidikan yang berbasis pendekatan sosiologis dalam membentuk karakter siswa. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif serta sudut pandang baru mengenai peran pendidikan sebagai sarana yang efektif dalam membangun dan memperkuat karakter peserta didik.
B. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur dengan analisis desktiptif. Metode studi literatur merupakan kegiatan yang berkaitan dengan pengumpulan data pustaka, membaca, mencatat dan mengelolah bahan penelitian (Yulia et al., 2022).
Metode studi literatur adalah pendekatan yang digunakan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyintesis literatur atau sumber informasi yang relevan yang telah dipublikasikan sebelumnya. Metode ini melibatkan penelusuran beragam sumber literatur, seperti buku, artikel, laporan dan lain- lainnya untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang topik yang sedang diteliti.
Tahapan studi literatur pada penelitian ini yaitu pengumpulan data dengan identifikasi masalah. Selanjutnya dilakukan penyaringan data yang akan digunakan berkaitan dengan penelitian. Kemudian artikel yang sudah dilakukan penyaringan dianalisis untuk mendapatkan landasan teori yang mendukung terkait peneliti.
C. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Karakter dapat dikonsepsikan sebagai atribut yang terkait dengan kepribadian (personality) yang mendominasi dalam diri seseorang. Secara hakiki, individu memerlukan panduan hidup yang berpengaruh dalam pembentukan kepribadiannya. Panduan tersebut berasal dari keyakinan agama yang mereka anut. Agama berperan sebagai pedoman sekaligus panduan dalam setiap ucapan, tindakan, dan sikap individu. Karakter siswa yang bersifat agamis didefinisikan sebagai sikap dan perilaku yang patuh dalam ibadah serta rukun dengan agama yang berbeda dengan yang dianutnya (Kemendiknas, 2010). Seperti yang disebutkan oleh Hutami, siswa dengan karakter agamis selalu taat pada perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya (Hutami, 2020). Pada dasarnya, setiap
manusia memiliki nilai spiritual dan merasa butuh akan kehadiran Tuhan dalam hidup mereka (Setiawan et al., 2022). Manusia sebenarnya merasakan pengalaman spiritual, merasakan keberadaan Tuhan tetapi sulit untuk dijelaskan secara konkret, serta menyadari keterbatasan dan kelemahan diri. Bahkan orang yang tidak beragama sekalipun merasakan hal tersebut (Maslow, 2021).
Manusia dianugerahi Tuhan dengan dua sifat yang kontradiktif. Dalam surah asy-Syams ayat delapan, sifat-sifat ini disebut sebagai Taqwa dan Fujur. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih di antara keduanya. Dengan demikian, berdasarkan esensi manusia yang memiliki dua sifat tersebut, individu dapat mengarahkan dirinya ke arah karakter yang baik atau sebaliknya. Oleh karena itu, pendidikan karakter memiliki peran yang penting dalam pembentukan karakter manusia. Selain memberikan pemahaman, pendidikan karakter juga mendorong integrasi antara pengetahuan, emosi, dan tindakan dalam pembentukan karakter yang seharusnya dimiliki oleh individu (Lickona, 2012).
Pembentukan karakter dapat diartikan sebagai proses menjadikan sesuatu agar berkarakter. Dalam konteks penelitian ini, pembentukan karakter siswa merujuk pada upaya guru dalam membentuk karakter siswa dengan memberi teladan yang diinginkan. Memberi teladan merupakan salah satu alternatif membentuk karakter siswa, karena manusia belajar melalui pengamatan terhadap objek baik itu lisan, perilaku dan sikap orang lain sebelum bereksplorasi meniru dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Guru yang berintegritas, jujur, bertanggungjawab, serta memiliki empati yang ditunjukkan dalam tindakannya memberi teladan yang nyata bagi siswa-siswinya (Muhammad Fadlan Fadillah Arif et al., 2024).
Istilah karakter berasal dari bahasa Yunani charassian yang bermakna memberi tanda, yang mengandung pengertian bahwa nilai-nilai kebajikan tampak melalui perilaku individu. Seseorang yang menunjukkan tindakan tidak jujur, bersifat kejam, atau memiliki sikap berlebihan dalam memenuhi kepentingan pribadi umumnya dipandang memiliki karakter yang tidak baik. Sebaliknya, individu yang menampilkan perilaku sesuai dengan norma dan prinsip moral dipersepsikan sebagai pribadi yang berkarakter luhur. Muhammad Hambal Shafwan 2021: 45–56).
Karakter merupakan aspek kepribadian yang dapat dikembangkan dan dibentuk oleh individu dengan dukungan pihak lain di sekitarnya. Karakter dapat tercermin dalam sifat yang positif maupun negatif dan diekspresikan melalui perilaku sehari-hari manusia. Proses pembentukan karakter bukanlah hal yang sederhana, namun dapat ditanamkan secara berkelanjutan melalui peran orang tua dalam lingkungan keluarga, pendidik di lingkungan sekolah, serta masyarakat dalam lingkungan sosial tempat individu berinteraksi (Sri Wening, 2012: 55–66).
Dalam konteks perkembangan saat ini, institusi pendidikan dituntut untuk bersikap lebih responsif, kreatif, dan inovatif dalam mengarahkan proses pembelajaran agar secara nyata berkontribusi terhadap penguatan pendidikan karakter. Purbani dan Astuti D. mengemukakan bahwa upaya pembentukan karakter melalui jalur pendidikan perlu dirancang secara menyeluruh dan kontekstual dengan orientasi pada pengembangan pola pikir dialogis dan kritis guna membentuk pribadi yang berkarakter tangguh. Pendekatan tersebut melibatkan berbagai lapisan lingkungan sosial, meliputi keluarga, sekol ah, masyarakat, hingga peran negara.
Guru sebagai agen sosialisasi karakter sekaligus figur teladan memiliki peran yang sangat strategis dalam pelaksanaan pendidikan karakter. Nilai-nilai yang menjadi landasan pendidikan karakter idealnya telah terinternalisasi dalam kepribadian pendidik. Purbani dan Astuti D. mengilustrasikan bahwa pendidik diibaratkan sebagai sebuah “lilin”; apabila lilin tersebut tidak menyala, maka tidak mungkin menerangi yang lain. Makna kiasan ini menunjukkan bahwa pendidik akan menghadapi kesulitan dalam membentuk peserta didik yang berkarakter apabila ia sendiri belum merepresentasikan nilai-nilai karakter dalam kepribadiannya.
Pendidikan karakter idealnya diberikan sejak anak berada pada tahap perkembangan awal, ketika ia telah mampu memahami, meniru, dan menangkap makna dari nilai-nilai yang diajarkan. Dengan demikian, pembiasaan yang ditanamkan sejak dini akan berkelanjutan dan membentuk pribadi anak yang berlandaskan karakter positif. Al-Faruq dan Sukatin menjelaskan bahwa pendidikan karakter berhubungan erat dengan aspek kejiwaan individu, meliputi kehendak, motif, serta dorongan atau motivasi. Proses ini mencakup pengenalan dan internalisasi beragam nilai kehidupan, seperti integritas, kecerdasan, empati, tanggung jawab, kebenaran, estetika, kebajikan, dan spiritualitas. (Elihami Elihami and Abdullah Syahid 2018: 79–96).
Pembentukan nilai-nilai karakter yang berbasis agama bagi para siswa mencerminkan perjalanan spiritual yang didasarkan pada keyakinan, ibadah, dan perilaku etis sebagai panduan dalam berperilaku (Sahlan, 2017). Pendidikan karakter bagi para siswa di Madrasah memegang peranan penting dalam membangun dan menyempurnakan karakter mereka, terutama dalam hubungan mereka dengan Tuhan melalui praktik keagamaan, serta pembiasaan moralitas dalam hubungan mereka dengan guru, orang tua, dan teman sebaya (Majidah,2018).
Guru merupakan figur utama di Madrasah. Mereka dianggap sebagai contoh yang harus diikuti oleh siswa berdasarkan segala hal yang mereka sampaikan melalui lisannya. Sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005, guru diwajibkan memiliki kompetensi dalam bidang sosial mereka. Kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan efektif dan efisien bersama siswa, rekan guru, orang tua siswa, dan masyarakat sekitar menjadi salah satu aspek yang harus dimiliki oleh seorang guru (Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, 2005). Siswa di Madrasah akan merekam setiap yang didengar dari gurunya. Para guru di Madrasah dapat memberi keteladanan lisannya dengan menjaga etika berbicara (qoul), berucap yang sopan, santun, menyenangkan, dan selaras dengan nilai-nilai syariat Islam. Penyebutan nama dengan cara yang sopan untuk memuliakan dan menghormati individu lainnya.
Peran guru memang tidak mudah, karena segudang tanggung jawab harus dipikulnya. Ia bertanggung jawab terhadap tugasnya, dan ia juga harus memiliki pesan moral yang mampu dan pantas diteladani oleh orang lain. Dan yang lebih penting dari semua itu adalah guru pemegang amanah yang harus dipikulnya dan bertanggung jawab atas segala ang diamanatkan kepadanya, dan berarti apabila ia menyianyiakan amanah itu sama artinya dengan penghianat, menghianati profesinya, tanggung jawabnya dan menghianati Allah SWT, (Suharsimi, 2002 :
130).
Dalam Islam, tugas seorang pendidik dipandang sebagai sesuatu yang sangat mulia, khususnya guru Pendidikan Agama Islam yang dipercaya oleh masyarakat mampu mendidik anak didiknya agar menjadi orang yang berkepribadian mulia. Dengan kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat, maka tugas dan tanggung jawab guru Pendidikan Agama Islam lebih berat. Lebih berat lagi mengemban tanggung jawab moral. Sebab tanggung jawab guru Pendidikan Agama Islam tidak hanya sebatas dinding sekolah, tetapi juga di luar sekolah. Hal ini menuntut guru agar selalu memperhatikan sikap, tingkah laku serta perbuatan anak didiknya, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Menurut Ahmad D Marimba yang dikutip oleh Samsul Nizar mengatakan bahwa, tugas pendidik dalam pendidikan Islam adalah membimbing dan mengenal kebutuhan atau kesanggupan peserta didik, menciptakan situasi yang kondusif bagi berlangsungnya proses kependidikan, menambah dan mengembangkan pengetahuan yang dimiliki guna ditransformasikan kepada peserta didik, serta senantiasa membuka diri terhadap seluruh kelemahan atau kekurangannya, (Samsul, 2002 : 44).
Sedangkan menurut Al-Ghazali, tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membawakan hati manusia untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT. Hal tersebut karena tujuan pendidikan Islam yang utama adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya, (Abdul, 2006: 90). Keteladanan guru, baik secara verbal maupun nonverbal, akan memberikan tanggapan yang positif bagi siswa. Respon ini kemudian akan menjadi contoh baik yang dilihat, didengar, maupun dirasakan dan tanpa disadari diikuti oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sikap yang spontan dan rutin ini akan membentuk model perilaku atau keteladanan sikap bagi kalangan siswa Madrasah. Guru yang selalu memberikan motivasi kepada siswanya untuk belajar dan beribadah dengan penuh semangat akan dihormati dan diidolakan karena keteladanan sifat, sikap, dan tutur katanya. Kesabaran guru dalam menghadapi siswa di kelas juga membuat mereka disebut sebagai panutan, terutama guru agama yang memberi pemahaman tentang sikap tokoh sejarah Islam, tanpa disadari memberikan keteladanan sikap bagi siswa di Madrasah, termasuk keteladanan yang ditunjukkan melalui tayangan video perihal kisah keteladanan hingga latihan mempraktikkan nilai-nilai karakter (Rifki et al., 2023).
Perilaku adalah bentuk reaksi motorik seseorang yang ditunjukkan dengan adanya tindakan yang terlihat. Perilaku adalah aktifitas fisik dan psikis seseorang terhadap orang lain atau sebaliknya dalam rangka memenuhi diri atau orang lain yang sesuai dengan tuntutan sosial. Perilaku atau tindakan Islami yang dapat dikembangkan di sekolah adalah:
a. Karakter Suka Menolong
Perilaku menolong sebagai sebuah bagian dari perilaku prososial yang dipandang sebagai segala tindakan yang ditujukan untuk memberikan keuntungan pada satu atau banyak orang (Putra & Rustika, 2015). Secara tidak langsung, pembentukan karakter ini akan membuat siswa memiliki hati yang baik, ikhlas, rasa sosial yang tinggi dan mau menerima kekurangan orang lain. Dengan adanya tolong menolong antar sesama manusia dan anggota kelompok, maka setiap individu ataupun anggota kelompok akan merasa nyaman, tenang, dan kebutuhan setiap individu ataupun kelompok tersebut terpenuhi, baik terpenuhi secara individu ataupun dengan bantuan dari anggota kelompok lainnya (Anjani,
2018).
b. Karakter Ramah (Sopan Santun)
Karakter ini membentuk sikap siswa yang baik hati dan tidak kasar kepada teman ataupun guru, dan juga dapat di sayang orang lain baik teman, guru, orang tua ataupun masyarakat. Kurniawati, dkk menyatakan bahwa peranan guru sebagai inspirator dalam menanamkan perilaku sopan santun pada anak guru selalu berupaya menunjukkan perilaku sopan santun pada anak dengan menujukkan perilaku sopan santun dirinya didepan anak (Pertiwi, 2020).
c. Karakter Saling Mencintai
Dengan adanya karakter ini siswa dapat saling membantu teman yang kesusahan di sekolah, baik kesusahan secara materiil ataupun sosial. Suyadi menjelaksan beberapa strategi yang dapat dilakukan guru untuk menstimulasi perilaku saling menyayangi adalah menjadi contoh yang baik; mengajarkan pengenalan emosi; menanggapi dan memahami perasaan siswa; melatih pengendalian diri dan mengelola emosi; menerapkan disiplin dengan konsep empati; melatih ketrampilan komunikasi dan sosial siswa; memberi iklim positif; tidak mudah marah, sedih dan cemas; melatih empati dan peduli pada orang lain; mengajari akibat dari suatu perilaku dan beri reinforcement atas perilaku (Erpina, et al., 2016).
Peran guru Pendidikan Agama Islam adalah harus mampu membimbing anak didiknya agar berakhlak mulia dan mampu berprilaku Islami sesuai ajaran Islam yang berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Guru pendidikan Agama Islam adalah seorang figure atau aktor utama di dalam kegiatan pendidikan yang mempunyai tugas dan wewenang dan tanggung jawab untuk membimbing, melatih, membina serta menanamkan ajaran Islam kepada peserta didik dalam hal keimanan, ibadah, syariat dan karakter agar mereka memiliki pengetahuan tentang Islam dan membentuk karakter pada siswa. (M.Anis, 2020).
Dikutip dari Nur’asiah, Slamet Sholeh, Mimin Maryanti, Jurnal ilmiah Adapun peran guru pendidikan agama Islam dalam pembentukan karakter religius siswa antara lain:
a. Pembiasaan 3S
Dengan memasuki ruang kelas terlebih dahulu dan membiasakan berdiri di depan pintu kelas untuk menyambut peseta didik, memberikan senyuman serta membiasakan mengucap salam. Tidak saat memasuki ruangan kelas saja namun setelah sholat berjamah juga.
b. Pembiasaan sholat dhuha dan dzuhur berjamaah
Untuk menumbuhkan karakter religius peserta didik sebelum pembelajaran dimulai dibiasakan sholat berjamaah terlebih dahulu, baik jamaah sholat dhuha maupun sholat dzuhur.dalam kegiatan sholat berjamaah guru melakukan presensi. Harapannya siswa dapat istiqomah dan terbiasa bersungguh-sungguh ketika di sekolah maupun saat di luar sekolah.
c. Pembiasaan membaca surat pendek
Membaca surat pendek sebelum pelajaran dimulai, harapannya agar siswa fasih dan lancar dan memiliki hafalan surat pendek yang dibaca saat sholat, dari hal tersebut juga dapat menumbuhkan karakter religius siswa.
d. Pembiasaan Pembacaan doa
Membaca doa sebelum dan setlah melakukan sesuatu ini merupakan sesuatu yang wajib, agar selama pembelajaran siswa diberikan kemudahan dalam mencapai tujuan belajar, harapannya agar siswa terbiasa melafadzkan doa sebelum dan sesudan melakukan suatu pekerjaan.
e. Pembiasaan bersikap disiplin
Disiplin merupakan suatu keadaan tertib ketika peserta didik yang tergabung tunduk pada peraturan dengan senang hati. Disiplin dimunculkan saat melakukan pembiasaan di sekolah, seperti melaksanakan kegiatan ibadah dan kegiatan rutin lain yang diselenggarakan sekolah. Ketika hal tersebut dapat terlaksana baik secara terus menerus maka peserta didik akan mengaplikasikannya dalam kehidupan seharihari, baik di sekolah maupun di rumah.
f. Pembiasaan bersikap jujur.
Penanaman kejujuran biasanya terjadi ketika siswa saat di presentsi, kemudian mencocokan hasil ulangan, serta dalam mengerjakan ulangan maupun tes. Siswa dibiasakan jujur dalam perkataan maupun perbuatan yang dilakukannya. (Nur’asiah, 2021).
Dapat kita simpulkan dari beberapa pernyataan di atas bahwa peran guru pendidikan Agama Islam dalam pendidikan adalah sebagai seorang pembimbing, sebagai seorang Pembina dalam membentuk peserta didik yang terdidik dalam nuasa keislaman, membentuk peserta didik yang memiliki karakter religius yang baik,yanag akan mereka implementasikan baik dalam lingkungan sekolah maupun dalam lingkungan sosial kemasyarakatan serta dalam kehidupan yang mereka jalani di kehidupan kesehariannya. Tentunya dalam ketercapayan tujuan pendidikan Islam untuk meciptakan peserta didik yang memeliki karakter yang baik, tak akan terlepas dari ketekunan seorang guru dalam mendidik, membimbing, mengarahkan serta mengontrol peserta didik dalam penanaman nilai-nilai keislaman dalam diri peserta didik.
D. KESIMPULAN
Peran Guru Pendidikan Agama Islam sangatlah penting untuk pembentukan pendidikan karakter siswa. Guru sebagai suri tauladan bagi siswanya dalam memberikan Lebih lanjut, pengintegrasian nilai-nilai karakter ke dalam kurikulum menjadi hal yang sangat penting. Setiap mata pelajaran diharapkan memuat pembelajaran yang menekankan integritas, tanggung jawab, kerja sama, dan toleransi. Pengembangan pendidikan karakter yang berlandaskan budaya sekolah bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang mampu memfasilitasi setiap peserta didik dalam mengembangkan jati diri sekaligus memahami makna kebebasan secara utuh.
Kultur sekolah yang mendukung pembentukan karakter diharapkan mampu mendorong pertumbuhan siswa secara menyeluruh, baik dari aspek fisik maupun mental, serta menumbuhkan kematangan psikologis, moral, dan spiritual. Oleh
sebab itu, pembentukan budaya sekolah yang kuat menjadi sangat penting sebagai landasan dalam membimbing pola interaksi dan komunikasi antarpeserta didik di lingkungan sekolah. Contoh karakter yang baik sehingga mencetak generasi yang baik pula. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ahzab (33): 21 yang berbunyi:
٢١
اريثك اللّٰ ركذو رخلْا مويلاو اللّٰ اوجري ناك نمل ةنسح ةوسا اللّٰ لوسر يف مكل ناك دقل
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”
Berdasarkan ayat di atas dijelaskan bahwa Rasulullah itu memiliki suri tauladan yang baik bagi umatnya. Contoh yang baik bagi umatnya di dunia. Sama halnya dengan Guru Pendidikan Agama Islam harus memiliki contoh yang baik untuk siswanya seperti halnya yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam pembentukan karakter begitu penting, tanpa adanya guru maka proses pembentukan karakter sulit dikembangkan. Jadi, guru di sekolah tersebut berperan sebagai contoh panutan bagi siswanya, menyampaikan ilmu yang dimiliki, mendampingi para siswa dalam belajar, menjadi motivator bagi siswa, dan mengembangkan kemampuan siswanya. Peran guru tersebut terlaksana dengan baik seperti yang diharapkan walaupun terkadang hasilnya belum maksimal.
Pendidikan karakter memiliki esensi yang sama dengan pendidikan moral atau akhlak. Dengan penerapan pendidikan karakter faktor yang harus dijadikan sebagai tujuan adalah terbentuknya kepribadian siswa supaya menjadi manusia yang baik, dan hal itu sama sekali tidak terikat dengan angka dan nilai. Dengan demikian, dalam konteks pendidikan, pendidikan karakter adalah pendidikan nilai yakni penanaman nilai-nilai luhur yang digali dari budaya bangsa Indonesia.
Berdasarkan paparan di atas dalam upaya pembentukan karakter yaitu guru harus berusaha menumbuhkan nilai-nilai tersebut melalui spirit keteladanan yang nyata, bukan sekedar pengajaran dan wacana. Pendidikan karakter begitu penting perannya dalam pembentukan karakter seseorang. Di sekolah-sekolah begitu gencar dengan pembentukan karakter siswa yang mengharapkan karakter yang baik yang sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Seseorang itu mempunyai karakter masing-masing itu pasti, tetapi tidak selama seseorang yang buruk dia akan selamanya buruk, tetapi akan dapat berubah secara perlahan kearah yang lebih baik. Keteladanan guru merupakan metode pendidikan yang sangat efektif dalam proses sosialisasi nilai Islam dan pembentukan karakter anak. Perilaku guru sehari- hari menjadi rujukan langsung bagi siswa dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Muhammad. “Problematika Dan Krisis Pendidikan Islam Masa Kini Dan
Masa Yang Akan Datang.” AL-URWATUL WUTSQA: Kajian Pendidikan Islam
2, no. 1 (2022): 66–75.
Arifin, Zainal. Sosiologi Pendidikan. Edited by Arfan Mu’ammar. Cetakan 1. Gresik:
Penerbit Sahabat Pena Kita, 2020.
Astuti, S. I. & Purbani, W. “Manusia Berkarakter Dalam Perspektif Guru Dan Siswa.”
JURNAL KEPENDIDIKAN 4, no. 1 (2012): 77–79.
Bambang Samsul Arifin dan Rusdiana. Manajemen Pendidikan Karakter. Bandung: CV Pustaka Setia, 2019.
Burhan, Burhan, Nurwidyayanti Nurwidyayanti, Andi Irwandi, Nadra Fakhirah Shaleh, Krisdayanty Pabulo, and Sri Rahmadhanningsih. “Analisis Penerapan Manajemen Sekolah Berbasis Teknologi Informasi Dan Komunikasi.” Jurnal Ilmiah Ecosystem 23, no. 2 (2023): 450–464.
Elihami, Elihami, and Abdullah Syahid. “Penerapan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Dalam Membentuk Karakter Pribadi Yang Islami.” Edumaspul – Jurnal Pendidikan 2, no. 1 (2018): 79–96.
Farikhah, Siti. Manajemen Lembaga Pendidikan. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.,
2025.
Maksum, Ali. Sosiologi Pendidikan. Malang: Government of Indonesia (GoI) and
Islamic Development Bank (IDB), 2016.
Matohar, Prim Masrokan. Manajemen Mutu Sekolah, Strategi Peningkatan Mutu Dan
Daya Saing Lembaga Pendidikan Islam. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013. Moeleong, Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya,
2002.
Rofiqi, and M Mansyur. “Kerjasama Orang Tua Dengan Guru Dalam Membentuk Nilai Religiusitas Anak.” Akademika: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 1, no. 2 (2019): 96–111. https://ejournal.iaiskjmalang.ac.id/index.php/akad/article/view/49.
Shafwan, Muhammad Hambal. “PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS TAUHID
(ANALISIS TERHADAP AL-QUR’AN SURAT LUQMAN AYAT 12-19
DALAM TAFSIR IBNU KATSIR).” Tadarus 10, no. 01 (2021): 45–56. http://journal.um-surabaya.ac.id/index.php/Tadarus/article/view/8487.
Sri Wening. “The Nation’s Character Building Through Value Education.” Jurnal
Pendidikan Karakter 1, no. 2 (2012): 55–66.
Wahyudin, Undang Ruslan. Manajemen Pendidikan Teori Dan Praktik Dalam Penyelenggaraan Sistem Pendidikan Nasional. Yogyakarta: Penerbit Deepublish (Grup Penerbitan CV Bumi Utama), 2020.
Yasin, M. “Sosiologi Pendidikan Sebagai Basis Manajemen Pendidikan Dalam
Penguatan Karakter Siswa.” Jurnal Al-Rabwah 13, no. 2 (2019): 114.
Nama Penulis: Dian Istiqomah
Jurusan/Prodi: Magister Pendidikan agama islam
Nama Kampus: Universitas Muhammadiyah Surabaya
E-mail:dianmis2018@gmail.com
Judul Berita: Peran Keteladanan guru dalam proses sosialisasi islam pada pembentukan karakter anak
Mata Kuliah : Sosiologi Pendidikan Islam
