PROBOLINGGO, PATROLI POS
Wakil Tanfidziyah PWNU Jawa Timur, KH. M. Balya Firjaun Barlaman, pada kegiatan Dzikirul Haul Masyayikh dan Tasyakur Khotmil Qur’an Bil Hifdzi ke-2 yang digelar di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in Lil-Qur’an, Blado Wetan, Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo, Sabtu (11/4/2026), dalam sambutannya menegaskan bahwa keutamaan seseorang di sisi Rasulullah SAW tidak diukur dari kekayaan, jabatan, maupun kehebatan semata, melainkan dari seberapa banyak ia bersholawat.
“Orang yang paling berhak mendapatkan syafaat Rasulullah SAW adalah yang paling banyak bersholawat. Inilah bentuk keadilan Allah SWT sekaligus keutamaan yang harus kita amalkan,” tegasnya.
Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya menjaga sanad keilmuan dalam tradisi pesantren. Menurutnya, ilmu dalam Islam memiliki mata rantai yang jelas dan harus dijaga keberlanjutannya.
“Ilmu adalah bagian dari agama. Maka lihatlah dari mana ilmu itu berasal dan dari siapa ia diraih,” ujarnya dengan tegas. Juga mengingatkan bahwa tidak semua orang berilmu otomatis memiliki kesalehan yang utuh. “Dan ingatlah, tidak setiap orang alim itu sholih,” imbuhnya.
Selain itu, beliau memberikan motivasi kepada para santri penghafal Al-Qur’an agar terus istiqamah dalam menjaga hafalan. Al-Qur’an, meskipun terdiri dari 30 juz, memiliki keistimewaan yang tidak pernah membosankan bagi para pembacanya.
“Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca. Dengan pembiasaan, hafalan akan terbentuk dengan sendirinya. Banyak ulama terdahulu mampu menghafal karena kedekatan mereka dengan mushaf,” jelasnya.
Ia juga mengajak seluruh hadirin untuk ikut menjaga Al-Qur’an dengan membiasakan membaca langsung dari mushaf sebagai bagian dari upaya merawat tradisi keilmuan Islam. (Mp/Red**).
