PROBOLINGGO, PATROLI POS
Khutbah ibadah shalat Jumat di Masjid Ar Rohiem, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo, Jumat (23/10/2026), menjadi momentum krusial dalam menyampaikan pesan moral Pasca-Hari Santri Nasional. Bertindak sebagai khatib, Aly Maschan Moesa, S.Pd., Penyuluh Agama Islam Kecamatan Tegalsiwalan, memberikan penekanan mendalam terkait keberanian santri dan umat Islam dalam mengamalkan ilmu serta mengenali potensi diri di tengah masyarakat.
Dalam khutbahnya, Aly menegaskan bahwa keberadaan ilmu tidak akan membawa dampak bagi kemaslahatan jika tidak dibarengi dengan keberanian untuk mengamalkannya. Menjelaskan konteks kesadaran manusia terhadap ilmu dan kapasitas dirinya, ia menguraikan secara rinci konsep yang dirumuskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengenai empat tipe manusia:
- Rojulun yadri wa yadri annahu yadri (Orang yang tahu dan sadar bahwa dirinya tahu): Golongan ini adalah ulama atau cendekiawan yang sadar akan kemampuannya serta konsisten memanfaatkannya demi kebaikan umat. Penekanan bagi jemaah adalah untuk mengikutinya dan meneladani ilmunya.
- Rojulun yadri wa laa yadri annahu yadri (Orang yang tahu tetapi tidak sadar bahwa dirinya tahu): Kelompok ini memiliki ilmu atau potensi besar, namun masih ragu, lupa, atau belum menyadari kapasitas dirinya layaknya orang tertidur. Khatib menekankan pentingnya peran lingkungan untuk membangunkan dan memberi motivasi agar potensi tersebut keluar.
- Rojulun laa yadri wa yadri annahu laa yadri (Orang yang tidak tahu dan sadar bahwa dirinya tidak tahu): Tipe ini mencerminkan sosok pembelajar sejati yang rendah hati karena menyadari kekurangannya. Penekanan bagi yang berilmu adalah wajib mengajar, menuntun, dan memberikan bimbingan kepadanya.
- Rojulun laa yadri wa laa yadri annahu laa yadri (Orang yang tidak tahu dan tidak sadar bahwa dirinya tidak tahu): Merupakan golongan paling berbahaya karena dihinggapi arogansi intelektual—merasa paling tahu padahal bodoh. Dalam pesan khutbahnya, Aly mengingatkan jemaah untuk menjauhi atau menghindari debat kusir dengan kelompok ini demi menjaga kedamaian.
Melalui pokok-pokok penekanan khutbah tersebut, jemaah diingatkan agar senantiasa melakukan introspeksi diri (muhasabah) terhadap ilmu yang dimiliki, senantiasa rendah hati, serta aktif memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan bermasyarakat. (Red**).
