PROBOLINGGO, PATROLI POS
Di tengah gempuran arus teknologi yang membuat budaya membaca dan menulis kian tergerus, sebuah kolaborasi penting untuk masa depan anak bangsa lahir di SMAN 1 Krucil. Pada Senin pagi, 18 Mei 2026, sekolah ini menginisiasi sebuah terobosan hebat demi membangun kembali peradaban literasi yang hampir tenggelam akibat penggunaan gadget yang kurang bijak.

Gagasan ini dimotori oleh Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) SMAN 1 Krucil, Hasan Basri, yang bersinergi dengan Seksi PAIS Kemenag Kabupaten Probolinggo melalui Pengawas PAI sekaligus Ketua Pokjawas PAI, Asbi Amrullah. Langkah progresif ini langsung mendapat lampu hijau dan dukungan penuh dari Kepala Sekolah SMAN 1 Krucil, Nurhayati Ningsih, serta Budi guru Bahasa Indonesia. Bersama-sama, mereka sukses menggelar acara inspiratif bertajuk “Membangun Literasi, Membuka Cakrawala Dunia” dengan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya.
Kehadiran Asbi Amrullah dalam acara ini membawa bobot tersendiri. Selain menjabat sebagai Ketua Pokjawas PAI, juga dikenal luas sebagai tokoh literasi yang kerap diundang sebagai pemateri di berbagai event tingkat Jawa Timur. Sebagai seorang penulis produktif yang telah menerbitkan beberapa karya tulis, Asbi membagikan pengalaman nyata dan motivasi besar kepada para siswa tentang pentingnya menuangkan gagasan ke dalam bentuk karya.
Kolaborasi lintas sektor ini sengaja dibentuk untuk menyasar Generasi Z (Gen Z). Tujuannya agar mereka tidak hanya sekadar mahir membuka dan menutup aplikasi di gawai, melainkan mampu memanfaatkan teknologi untuk mengasah kemampuan literasi yang mendalam.
Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir generasi pionir baru yang memiliki daya kritis, intelektual tinggi, berkarakter mulia, serta siap menghadapi ketatnya perubahan zaman dengan torehan prestasi di bidangnya masing-masing.
Acara yang berlangsung interaktif ini rupanya memantik antusiasme luar biasa dari para peserta. Tidak puas hanya dengan teori, di akhir sesi para siswa justru meminta adanya program lanjutan. Mereka menantang diri mereka sendiri untuk bisa menghasilkan produk karya nyata, baik berupa tulisan maupun buku yang nantinya dapat menjadi kebanggaan bagi sekolah, orang tua, dan diri mereka sendiri. (Red**).
