PROBOLINGGO, PATROLI POS
Seksi Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo kembali menunjukkan komitmennya dalam membentengi generasi muda dari ancaman radikalisme. Melalui program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), Kemenag Probolinggo menggandeng Densus 88 Anti Teror (AT) Polri untuk memberikan pembekalan kepada ratusan siswa di MA Mambaul Hasan, Desa Sukorejo, Kecamatan Paiton, pada Rabu (20/05/2026).
Langkah kolaboratif ini sengaja diambil sebagai upaya preventif untuk menanamkan nilai-nilai wawasan kebangsaan, moderasi beragama, serta bahaya intoleransi sejak dini. Selain menghadirkan pemateri dari Densus 88/AT Polri AKP Anang Sumawan, agenda ini juga dihadiri langsung oleh Kasi Bimas Islam H. Imamudin Nurfajri, Kepala KUA Paiton, dan jajaran pengurus PD IPARI Kabupaten Probolinggo.
Dalam arahannya, Kasi Bimas Islam Kemenag Probolinggo, H. Imamudin Nurfajri, menyampaikan bahwa tantangan yang dihadapi remaja saat ini jauh lebih kompleks, terutama di era digital. Menurutnya, kesuksesan akademik semata tidak akan cukup tanpa dibarengi dengan fondasi mental dan spiritual yang kokoh.
“Remaja hari ini adalah penentu arah bangsa di masa depan. Karena itu mereka harus dibekali pemahaman agama yang moderat, cinta damai, dan memiliki kepedulian terhadap bangsa serta lingkungan sekitarnya. BRUS menjadi ruang edukasi yang sangat penting dalam menyiapkan Generasi Emas Indonesia,” tegas Imamudin.
Ia juga menambahkan bahwa kehadiran Densus 88/AT Polri di tengah-tengah siswa sangat strategis untuk mengantisipasi penyebaran paham radikal yang kerap memanfaatkan platform digital demi memengaruhi pola pikir anak muda.
Senada dengan hal tersebut, AKP. Anang Sumawan dalam sesi materinya mengingatkan para siswa agar tidak menelan mentah-mentah informasi yang beredar di media sosial. Ia mengungkapkan bahwa doktrinasi radikal saat ini sering kali dikemas secara halus lewat narasi provokatif dan ujaran kebencian yang mengatasnamakan agama.
AKP. Anang berpesan agar para pelajar di MA Mambaul Hasan mampu menjadi agen perdamaian yang aktif merawat toleransi serta menghargai kemajemukan bangsa. Beliau menegaskan bahwa esensi dari ajaran Islam adalah membawa kedamaian dan kasih sayang bagi alam semesta, bukan menyebarkan kebencian.
Antusiasme para siswa terlihat sangat tinggi sepanjang acara berlangsung. Melalui sesi diskusi dan tanya jawab yang interaktif, para pelajar tidak hanya sekadar mendengarkan teori, tetapi juga diajak berpikir kritis dalam menyikapi berbagai isu sosial demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (Red**).
