PROBOLINGGO, PATROLI POS
Keluhan mengenai kelangkaan minyak goreng subsidi merek “Minyakita” mulai mencuat di kalangan pedagang kelontong dan masyarakat Kota Probolinggo. Berdasarkan pantauan awak media di lapangan, khususnya di Pasar Baru, stok minyak tersebut sulit ditemukan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.

Tim Patroli Pos yang menelusuri sejumlah toko kelontong mendapati kekecewaan para pedagang. Mereka menyayangkan stok Minyakita yang kosong total di pasaran. Beberapa pedagang bahkan mengaku telah mendatangi berbagai distributor, namun hasilnya nihil.
Kondisi ini memicu spekulasi di kalangan pedagang, mereka menduga adanya praktik penimbunan oleh oknum tertentu untuk kepentingan momen Tabungan Hari Raya, mengingat permintaan biasanya melonjak drastis saat bulan puasa.
“Kami sudah cari ke distributor, kosong semua, kami jadi berpikiran jangan-jangan ada penimbunan karena ini sudah mau puasa,” ujar salah satu pedagang kelontong di Pasar Baru yang enggan disebutkan namanya.

Warga Kesulitan, Minat Minyak Curah Rendah
Tak hanya pedagang, keluhan juga datang dari konsumen, khususnya warga Kota Probolinggo dan kawasan perumahan Asabri. Penelusuran media di berbagai toko dan agen di Kota Probolinggo mengonfirmasi fakta bahwa stok Minyakita memang kosong.
Warga menyayangkan hal ini karena harga Minyakita dinilai sangat terjangkau. Meskipun minyak goreng curah tersedia di pasaran sebagai alternatif, minat warga terhadap jenis minyak tersebut sangat minim.
DKUMP: Rantai Pasok Terlalu Panjang
Menanggapi keresahan masyarakat, awak media Patroli Pos mengonfirmasi Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (DKUMP) Kota Probolinggo, pada Kamis 20/11/2025.
Kepala DKUMP Kota Probolinggo, Slamet Swantoro, S.P., melalui pesan WhatsApp menjelaskan bahwa pihaknya saat ini masih terus melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pasar-pasar di Kota Probolinggo untuk memantau situasi.
Slamet membeberkan beberapa faktor utama penyebab kelangkaan Minyakita saat ini:
Pasokan Terbatas: Ketersediaan Minyakita dari tingkat produsen memang sedang terbatas.
Kendala Administrasi: Kebanyakan pedagang pasar tidak bisa mendapatkan stok langsung dari distributor resmi karena terkendala pengurusan dokumen administrasi.
Harga Tinggi: Akibat kendala tersebut, pedagang terpaksa membeli dari sales (perantara) dengan harga yang lebih tinggi.
Rantai Pasok: Rantai pasokan dinilai terlalu panjang sehingga distribusi menjadi terhambat dan mahal.
Sebagai upaya penanggulangan dan langkah stabilisasi harga, Slamet menegaskan bahwa DKUMP rutin menyelenggarakan Pasar Murah setiap minggunya. Selain itu, pemerintah kota juga tengah mengoptimalkan peran Warung Pengendali Harga untuk membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga wajar. (Agus Jaguar).
