MINA, PATROLI POS
Puncak pelaksanaan ibadah haji di Mina menjadi momentum penuh tantangan bagi jemaah maupun petugas haji. Di tengah padatnya arus jemaah menuju Jamarat untuk melaksanakan lontar jumrah Aqabah, Ketua Kloter SUB 01, Suharto, bersama tim kesehatan tetap memprioritaskan pelayanan dan pendampingan terhadap jemaah lanjut usia (lansia) serta jemaah risiko tinggi (risti).
Pendampingan dilakukan secara intensif di tenda Mina guna memastikan kondisi kesehatan jemaah tetap terpantau dan memperoleh pelayanan yang optimal. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk komitmen petugas dalam memberikan perlindungan dan rasa aman kepada jemaah yang membutuhkan perhatian khusus selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci.
Sebelumnya, salah satu jemaah dilaporkan mengalami penurunan kondisi kesehatan hingga pingsan menjelang pelaksanaan wukuf dan harus dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Kondisi tersebut semakin menguatkan pentingnya kesiapsiagaan petugas dalam mendampingi jemaah, khususnya kelompok rentan.
Saat sebagian besar jemaah bergerak menuju Jamarat, Suharto memilih tetap berada di tenda pelayanan bersama tenaga kesehatan demi memastikan jemaah lansia dan risti tetap mendapatkan pendampingan secara maksimal. Bahkan, pelaksanaan lontar jumrah Aqabah atas nama dirinya harus dilakukan melalui mekanisme badal karena fokus menjalankan tugas pelayanan kepada jemaah.
Selain itu, tahallul awal bagi sejumlah jemaah lansia juga dilaksanakan di tenda Mina melalui mekanisme perwakilan. Kebijakan tersebut diambil menyesuaikan kondisi kesehatan dan kemampuan fisik jemaah yang tidak memungkinkan mengikuti seluruh rangkaian ibadah secara langsung.
Kloter SUB 01 terdiri dari jemaah yang berasal dari berbagai Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), yakni KBIHU Dar El Ibad sebanyak 115 jemaah yang dibimbing KH. Muhlisin Saad, KBIHU Attaufiqiyah sebanyak 164 jemaah di bawah bimbingan H. Taufiq, KBIHU Nahdlatul Ulama sebanyak 44 jemaah yang dibimbing KH. Wasik Hannan dan KH. Muhammad, KBIHU Makkah Madinah sebanyak 44 jemaah di bawah bimbingan KH. Subadar dan KH. Wafi Tabroni, serta Al-Khoridah sebanyak 5 jemaah yang dibimbing KH. Sholahuddin. Selain itu terdapat pula 4 jemaah mandiri dalam Kloter SUB 01.
Di tengah tingginya mobilitas jemaah di Mina, para petugas juga menghadapi keterbatasan waktu pelaksanaan ibadah menjelang kepulangan ke tanah air. Tawaf ifadah yang merupakan salah satu rukun haji masih harus ditunaikan dalam waktu relatif singkat, sementara akses transportasi menuju Masjidil Haram mengalami kepadatan dengan jarak hotel menuju Masjidil Haram sekitar tujuh kilometer.
Meski berasal dari latar belakang KBIHU yang berbeda, seluruh pembimbing dan jemaah di Kloter SUB 01 mampu membangun kolaborasi yang harmonis, guyub, dan saling mendukung selama pelaksanaan ibadah haji. Kebersamaan tersebut menjadi kekuatan penting dalam menjaga kekompakan dan kelancaran pelayanan kepada jemaah di Tanah Suci.
Pelaksana Tugas Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Ervin Syarif, menyampaikan apresiasi atas dedikasi petugas kloter serta sinergi yang terbangun antarpembimbing KBIHU dalam mendampingi jemaah.
“Kami mengapresiasi dedikasi dan pengabdian para petugas serta seluruh pembimbing KBIHU yang mampu membangun kebersamaan dan pelayanan yang baik kepada jemaah. Keselamatan, kenyamanan, dan kesehatan jemaah harus menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan ibadah haji,” ujarnya.
Ia juga berharap seluruh jemaah haji asal Kabupaten Probolinggo senantiasa mendoakan daerah agar diberikan keberkahan, keamanan, kemajuan, dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Semangat pelayanan tersebut sejalan dengan pesan KH. Muhammad Zuhri Zaini yang menyampaikan bahwa melayani jemaah haji merupakan bagian dari ibadah yang sangat mulia. Nilai pengabdian, keikhlasan, dan kepedulian itulah yang terus menjadi penguat bagi para petugas dalam menjalankan amanah pelayanan haji di Tanah Suci. (Mp/Red**).
