PROBOLINGGO, PATROLI POS
Dinas Pertanian (Diperta) Kabupaten Probolinggo menggelar rapat koordinasi (rakor) pembentukan Bank Pupuk Desa dengan konsep “1 Desa 1 Pusat Pupuk” di Co Working Space (CWS) Penyuluh Pertanian, Selasa (14/4/2026).
Rakor ini merupakan bagian dari upaya mendukung program GUSPUK SAE yang diikuti oleh 99 Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) se-Kabupaten Probolinggo.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Bidang Sarana, Penyuluhan dan Pengendalian Pertanian Diperta Kabupaten Probolinggo Faiq El Himmah, Ketua Tim Kerja (Katimker) Penyuluh Pertanian Eko Budi Santoso serta Koordinator POPT Machmud.
Kepala Diperta Kabupaten Probolinggo Arif Kurniadi melalui Kepala Bidang Sarana, Penyuluhan dan Pengendalian Pertanian Faiq El Himmah mengatakan program GUSPUK SAE dirancang sebagai solusi atas berbagai persoalan pertanian, mulai dari ketergantungan terhadap pupuk kimia, tingginya biaya produksi hingga degradasi lingkungan.
“Program ini mendorong transformasi dari pola konvensional menuju kemandirian petani melalui produksi probiotik lokal sejenis EM4, pengolahan pupuk organik serta pembentukan bank pupuk desa yang terintegrasi,” ujarnya.
Menurut Faiq, GUSPUK SAE juga sejalan dengan kebijakan nasional dan daerah serta menjadi bagian dari upaya mewujudkan pertanian berkelanjutan berbasis potensi lokal di Kabupaten Probolinggo. “Melalui program ini, petani didorong untuk memanfaatkan limbah organik seperti jerami, kotoran ternak hingga sampah rumah tangga sebagai bahan baku pupuk organik,” jelasnya.
Selain itu, dibangun sistem bank pupuk desa yang memungkinkan distribusi, penyimpanan hingga pertukaran pupuk antar petani. “Program ini memiliki banyak keunggulan, mulai dari kemandirian pupuk, efisiensi biaya hingga ramah lingkungan. Bahkan biaya produksi bisa ditekan hingga lima kali lipat,” terangnya.
Secara bertahap, implementasi GUSPUK SAE dimulai dari penyusunan konsep, pembentukan kelembagaan, pelatihan petani, pembangunan rumah pupuk hingga proses produksi dan distribusi yang berkelanjutan.
“Hasilnya, program ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menciptakan sistem ekonomi sirkular di tingkat desa. Melalui pendekatan ini, kita tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga membangun sistem pertanian yang berkelanjutan dan mandiri,” tambahnya.
Diperta Kabupaten Probolinggo berharap melalui rakor ini, seluruh desa dapat segera membentuk bank pupuk sebagai pusat layanan pertanian berbasis potensi lokal, sehingga kesejahteraan petani semakin meningkat dan ketahanan pangan daerah semakin kuat. (Rudi Hartono).
