PROBOLINGGO, PATROLI POS
Alunan gamelan Ketipung khas Tengger bertalu-talu membelah sejuknya udara Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo pada Senin (3/08/2026). Langkah-langkah kaki warga yang mengenakan busana adat bergerak perlahan namun mantap menuju Makam Jenggiri dan Makam Nglegong. Di tangan mereka, terikat erat rupa-rupa sesaji dan bunga segar persembahan Hari Raya Karo Tahun 1948 Saka.
Tradisi Nyadran kembali digelar, menegaskan sebuah pesan abadi dari lereng Bromo: keberagaman bukanlah pemisah, melainkan simfoni persaudaraan yang merdu.
Nyadran yang dipimpin oleh Dukun Adat Suku Tengger ini memang kental dengan nuansa spiritualitas Hindu Tengger. Namun menariknya, prosesi ini menjadi panggung terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang agama maupun keyakinan. Tradisi luhur yang diwariskan secara turun-temurun ini menjadi panggung nyata dari praktik moderasi beragama—bukan sekadar teori dalam buku, melainkan napas kehidupan sehari-hari.
Kepala Desa Ngadirejo, Anang Budiono, mengungkapkan bahwa Nyadran adalah kompas moral untuk selalu mengingat akar sejarah dan menghormati para pembuka jalan kehidupan di Bromo. Melalui berjalan bersama menuju makam leluhur sembari membawakan doa dan persembahan, warga menyadari bahwa keberadaan mereka hari ini adalah buah dari perjuangan pendahulu. Suasana khidmat terasa menyatu dengan gelak tawa dan sapaan hangat antartetangga sepanjang jalan.
Kedamaian yang tercipta dalam perayaan ini bukanlah kebetulan. Sejak era legendaris Joko Seger dan Roro Anteng, nilai-nilai saling menghormati dan gotong royong telah tertanam kuat di hati masyarakat Tengger. Rangkaian Hari Raya Karo—mulai dari Takaning Pitu, Tumpeng Gede, Nyadran, hingga kehangatan hiburan Tayub—berhasil menjelma menjadi ruang kebudayaan cair yang merekatkan tali silaturahmi seluruh warga.
Apresiasi tinggi datang dari Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sukapura, Arif Rahman Hakim. Menurutnya, Hari Raya Karo memiliki daya jangkau yang jauh melebihi ritual adat semata. Perayaan ini adalah fondasi kokoh bagi ikatan sosial warga yang terbiasa hidup berdampingan secara damai, aman, dan sejahtera. Semangat ini dinilai sangat selaras dengan tema “Tengger in Harmony” yang sempat diusung pada Hari Amal Bhakti Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo lalu.
Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo melihat pola hidup masyarakat Tengger sebagai best practice atau contoh teladan moderasi beragama yang tumbuh murni dari kearifan lokal. Di saat dunia luar kerap dipusingkan oleh sekat-sekat perbedaan, masyarakat di kawasan Bromo justru membuktikan bahwa kerukunan sejati lahir dari tradisi yang dirawat bersama. Dari lereng Bromo yang megah, pesan persaudaraan universal itu terus bergema, menyinari jalan menuju kehidupan yang penuh kasih dan keharmonisan. (Red**).
