PROBOLINGGO, PATROLI POS
Dalam semangat menyambut Hari Santri Nasional ke-X Tahun 2025, Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo melalui Panitia Hari Santri berkolaborasi dengan Kepala MAN 2 Probolinggo, Dr. Ahmad Zamroni, dan Penyelenggara Zakat dan Wakaf (Penzawa) Yazid Zain, sukses menggelar Lomba Kaligrafi Kontemporer di Aula MAN 2 Probolinggo. Kamis, (16/10/2025).
Kegiatan ini diikuti santri terbaik di kabupaten Probolinggo yang memiliki skill dan keahlian khusus di bidang kaligrafi. Ini bukan bukan sekadar lomba seni, ajang ini menjadi bentuk ekspresi spiritual dan intelektual para santri dalam menghidupkan nilai-nilai keislaman melalui keindahan tulisan Al-Qur’an.
Kaligrafi kontemporer dipilih karena memiliki daya tarik tersendiri — sebuah perpaduan antara tradisi klasik dan nuansa modern. Goresan tinta para santri tidak hanya menunjukkan keindahan estetika, tetapi juga mencerminkan kedalaman makna, ketelitian, dan kekuatan spiritual yang tertanam dalam jiwa seorang penulis Al-Qur’an.

Dalam sambutannya, Kepala Kemenag Kabupaten Probolinggo, Dr. Samsur, menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kecerdasan dan kerendahan hati. “Cerdas intelektual harus kita syukuri, tapi jauhilah sifat sombong karena itu dibenci oleh Allah SWT. Ilmu tidak hanya untuk dibanggakan, tetapi untuk diamalkan demi kemaslahatan,” tegasnya.
Ia menambahkan, lomba kaligrafi ini bukan hanya ajang kompetisi seni, tetapi juga bentuk ibadah dan refleksi diri.“Setiap goresan pena dalam kaligrafi adalah dzikir. Kecantikan huruf yang ditulis dengan hati yang bersih menjadi cerminan iman dan keikhlasan seorang santri,” ungkapnya dengan penuh makna.
Kepala MAN 2 Probolinggo Dr. A. Zamroni menutup dengan doa sekaligus menyampaikan apresiasi kepada Kemenag yang terus mendorong kreativitas santri di hari santri tahun ini. “Kegiatan ini sungguh mulia dalam menyambut Hari Santri. Semoga menjadi wadah menyalurkan bakat seni sekaligus memperkuat identitas santri sebagai penjaga nilai keindahan Islam,” tuturnya.
Kasi PD Pontren, Ansori, menegaskan bahwa lomba ini merupakan hasil sinergi lintas sektor yang melibatkan juga penyuluh agama di bawah binaan Kasi Bimas Islam. “Kaligrafi adalah warisan indah para ulama dan seniman muslim yang harus terus kita lestarikan. Melalui kegiatan ini, santri diajak untuk memahami bahwa menulis ayat-ayat Al-Qur’an dengan indah sama artinya dengan menghidupkan cahaya Allah dalam kehidupan,” jelasnya.
Panitia menghadirkan dewan juri berpengalaman, yakni Hizbullah, Syaiful Ulum, dan Muhammad Kamil, yang memberikan penilaian berdasarkan keindahan komposisi, keaslian gaya, serta makna spiritual yang terkandung dalam karya.

Cabang kaligrafi sendiri menjadi salah satu bidang bergengsi dalam berbagai ajang seperti Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) madrasah maupun kompetisi keagamaan lainnya. Melalui lomba ini, para santri tidak hanya berkompetisi, tetapi juga berinteraksi dengan nilai estetika Islam yang mendalam — mengubah pena menjadi sarana dakwah yang lembut namun kuat.
Dengan mengusung tema “Mengawal Kemerdekaan Indonesia Menuju Peradaban Dunia,” kegiatan ini meneguhkan peran santri sebagai generasi penerus yang beriman, berilmu, dan berbudaya. “Yakinlah bahwa hanya dengan iman dan ilmu, Allah SWT akan mengangkat derajat para santri,” tutup Dr. Samsur penuh harap, disambut tepuk tangan hangat peserta dan guru pendamping.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa seni kaligrafi bukan sekadar karya rupa, melainkan perwujudan ruh keislaman yang hidup di setiap goresan tinta santri. Mp.
