PROBOLINGGO, PATROLI POS
Ratusan umat Islam memadati Lapangan Perum Bromo Ketapang pada Jumat pagi, 20 Maret 2026, untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah. Acara yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kademangan ini berlangsung dengan penuh khidmat dan tertib.
Bertindak sebagai Imam dalam pelaksanaan Shalat Ied adalah Ustadz Arief Rahman Hakim. Usai pelaksanaan shalat, jemaah mendengarkan khutbah Idul Fitri yang disampaikan oleh Dr. Moh. Nurhasan, SH, M.Hum.
Dalam khutbahnya, Dr. Nurhasan menyampaikan pesan tentang kebahagiaan yang tiada tara ketika hamba-Nya mendapatkan nikmat dan rahmat dari Allah SWT, terutama bagi mereka yang mampu menyelesaikan ibadah puasa Ramadan.
“Bagi orang yang berpuasa, ada dua kebahagiaan. Pertama, kebahagiaan saat berbuka (termasuk merayakan Idul Fitri saat ini). Dan kedua, kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika kelak di hari kiamat bertemu dengan Tuhannya,” paparnya.
Beliau kemudian menjelaskan bagaimana cara umat Islam bergembira dalam menyambut hari kemenangan ini dengan cara yang benar, sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an. Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 185 yang menjelaskan kedudukan Ramadan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.
Ayat tersebut berbunyi: “(Bulan) Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
Lebih lanjut, Dr. Nurhasan menekankan bahwa puasa adalah ibadah yang bersifat rahasia dan sangat khusus antara hamba dengan Sang Pencipta. Beliau mengutip Hadis Qudsi di mana Allah SWT berfirman, “Kecuali puasa, sungguh puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan memberinya pahala.”
Dalam momen fitri ini, beliau juga memberikan peringatan keras. “Celakalah orang yang diberi kesempatan berada di dalam bulan Ramadan, tetapi tidak memanfaatkan waktunya untuk mendapatkan ampunan Allah SWT.”
Tema utama khutbah tersebut menyoroti tentang kejujuran. Dr. Nurhasan menyampaikan bahwa esensi puasa adalah melahirkan kejujuran dan melatih diri untuk menjauhi kebohongan.
“Kita harus menjauhi kebohongan, karena kebohongan itu mengantarkan kepada kejahatan, dan kejahatan itu menuju ke neraka. Sungguh menyedihkan jika melihat kejujuran di negeri ini kian menipis,” tuturnya.
Menutup khutbahnya, Dr.Moh.Nurhasan memimpin doa bersama agar seluruh jemaah menjadi pribadi yang baik dan bisa bersama-sama memperbaiki keadaan. Khotib juga mendoakan agar bangsa Indonesia selalu diberikan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi seluruh penduduknya.
Secara khusus, juga mendoakan situasi dunia, agar perang yang tengah terjadi cepat selesai, atau segera dimenangkan oleh orang-orang yang beriman. (Red**).
