PROBOLINGGO, PATROLI POS
Penguatan kelembagaan dan mutu pendidikan di lingkungan pondok pesantren terus dikebut. Langkah konkret ini salah satunya diwujudkan melalui kegiatan visitasi pengajuan Izin Operasional Satuan Pendidikan Mu’adalah (SPM) di Pondok Pesantren (PP) Alhadi Almusyfiyah, Desa Bayeman, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo. Selasa 19/05/2026.
Kegiatan strategis ini fokus pada berbagai aspek krusial, mulai dari penguatan tata kelola yayasan, standarisasi pendidikan, hingga pembentukan karakter santri yang adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi.
Dalam arahannya, ditekankan bahwa pondasi utama kemajuan lembaga pendidikan berada pada kekuatan yayasan selaku pengelola. Yayasan yang solid akan memiliki kredibilitas dan kemudahan dalam memanajeri lembaga, termasuk saat mengembangkan unit pendidikan baru.
“Yang harus dibenahi lebih dahulu adalah yayasannya. Kalau yayasannya kuat maka akan mudah mengelola lembaga. Apalagi ketika ditambah lembaga baru tentu tanggung jawabnya semakin berat, terutama dalam menghadapi manajemen modern,” ungkapnya tegas.
Kendati dituntut melek modernisasi, pesantren diharapkan tidak menanggalkan nilai-nilai luhur dan tradisi baik yang selama ini mengakar. Transformasi digital dan inovasi budaya baru harus berjalan beriringan dengan pelestarian tradisi keilmuan dan akhlakul karimah yang menjadi ciri khas dunia santri.
Apalagi, negara saat ini memberikan rekognisi dan penghargaan besar terhadap kiprah para kiai dalam membangun peradaban pendidikan melalui hadirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Namun, tantangan besar ke depan tetap ada, seperti ketatnya persyaratan pengajuan Ma’had Aly yang mengharuskan lembaga memiliki minimal 1.000 santri dan telah berdiri selama 20 tahun.
Di sisi lain, Jatim KDMA Maimun mengingatkan pentingnya pemenuhan 10 standar pendidikan demi melahirkan output lulusan yang kompetitif. Menurutnya, mutu tenaga kependidikan, serta kurikulum berbasis kitab kuning yang diselaraskan dengan regulasi pemerintah, menjadi kunci utama. Lulusan pesantren masa kini harus unggul dalam ranah diniah (agama) sekaligus cakap dalam ilmu umum.
“Tantangan pesantren ke depan adalah bagaimana pondok pesantren mampu mempersiapkan generasi yang mumpuni dalam bidang agama dan umum, namun tetap melek teknologi informasi,” cetus Maimun.
Tak kalah penting, peran guru sebagai figur sentral juga disorot. Pendidik di pesantren diharapkan mampu menciptakan atmosfer belajar yang ramah anak, menjadi teladan, serta mengedepankan niat pengabdian yang tulus. Penataan tata ruang belajar yang bersih dan tertib administrasi juga menjadi indikator kualitas kelembagaan.
Menyelaraskan hal tersebut, Kasi PD Pontren menyampaikan bahwa program pembinaan pesantren ramah anak, gerakan stop bullying, serta pencegahan peredaran narkoba menjadi agenda prioritas sepanjang tahun. Ikhtiar ini digerakkan secara masif sesuai arahan Kepala Kemenag Dr. Samsur, yang diperkuat lewat sinergi lintas sektor bersama Pemerintah Kabupaten Probolinggo.
Sinergitas ini melibatkan DP3AP2KB, LPA, PPA, serta dinas terkait demi memastikan perlindungan anak dan penguatan moralitas santri berjalan optimal. Sebab, sehebat apa pun sistem pendidikan yang dirancang, penataan karakter tetaplah menjadi fondasi yang paling utama.
Melalui visitasi Ijop SPM di PP Alhadi Almusyfiyah ini, kelembagaan pesantren di Probolinggo diharapkan semakin kokoh, adaptif, berkualitas, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai keislaman demi menyongsong tantangan zaman. (Mp/Red**).
