PROBOLINGGO, PATROLI POS
Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, H. Syaikhul Hadi, menegaskan pentingnya penguatan spiritual dan komitmen moral sebagai fondasi utama keberhasilan pembangunan Zona Integritas (ZI). Hal tersebut disampaikan saat memberikan arahan pada kegiatan Pembinaan PMPZI di lingkungan Kemenag Kabupaten Probolinggo.

Mengawali arahannya, Kabag TU mengajak seluruh ASN untuk memperbanyak membaca sholawat Nabi Muhammad SAW dan Al-Qur’an sebagai bentuk ikhtiar menjaga kejernihan hati dan integritas. Ia juga membagikan pengalaman emosional saat meninggalkan Kota Madinah Al-Munawwarah, tempat dimakamkannya Rasulullah SAW.
“Perbanyaklah membaca sholawat dan Al-Qur’an. Kekuatan spiritual itu akan menjaga langkah kita dalam bekerja,” ujarnya.
Tantangan Implementasi ZI
Dalam kesempatan tersebut, Syaikhul Hadi mengakui bahwa pembangunan ZI di Kemenag bukanlah hal yang mudah. Meski telah dicanangkan sejak 2018, implementasinya masih menghadapi berbagai kendala, bahkan sejumlah unit yang menjadi pilot project sempat tumbang di tengah jalan.
“Apakah ZI tidak cocok atau tidak bermanfaat? Tidak. ZI bukan untuk berpura-pura. Ini tindakan nyata,” tegasnya.
Ia mencontohkan bahwa disiplin sederhana—seperti seluruh pegawai sudah berada di pos masing-masing sebelum pukul 07.30—merupakan bagian dari implementasi integritas. Pada aspek pelayanan, ia menekankan pentingnya PTSP yang ramah, cepat, dan mengedepankan etika pelayanan.
“Senyum, sapa, dan salam itu mudah. Itu bagian dari pelayanan berkualitas,” tambahnya.
Kabag TU juga mengenang materi yang diterimanya saat mengikuti Diklat ZI pada 2019, di mana salah satu narasumber dari Itjen Kemenag, M. Yasin, menegaskan bahwa ASN harus tunduk pada aturan dan tidak boleh menerima pemberian dalam bentuk apa pun yang berpotensi menjadi gratifikasi.
“Local wisdom tidak boleh menabrak integritas. ASN harus tegak lurus pada aturan,” tegas narasumber saat itu.
Menurutnya, upaya memahami masyarakat agar tidak memberikan gratifikasi kepada ASN juga merupakan bagian dari pembangunan budaya integritas.

Pemimpin Harus Menegur Pelanggaran
Ia menambahkan bahwa pemimpin memiliki tanggung jawab moral untuk menegur ASN yang tidak patuh. Jika teguran tidak diindahkan, maka konsekuensi menjadi tanggung jawab individu masing-masing.
Empat Tipe Pegawai
Dalam arahannya, Syaikhul Hadi mengidentifikasi empat tipe pegawai yang ada dalam organisasi, yaitu:
1. Tipe bersih-bersih, yang berperan membersihkan hal-hal negatif.
2. Tipe pembaharu, yang aktif memperbaiki pelayanan, sarpras, dan meninggalkan jejak positif.
3. Tipe banyak bicara, yang lebih sering membahas prestasi dan urusan pribadi.
4. Tipe pembangun, tipe ideal yang fokus memperbaiki kantor dan mendukung kemajuan lembaga.
Integritas Dimulai dari Rasa Malu dan Takut Melanggar Agama
Menurutnya, pembangunan ZI akan lebih mudah apabila setiap ASN memiliki dua karakter kunci: malu jika tidak berintegritas dan takut melanggar ajaran agama.
“Jangan takut berintegritas. Itu nilai agama kita,” tegasnya.
Jauhi Keserakahan, Yakin pada Ketentuan Rezeki
Di penghujung paparannya, ia mengingatkan agar ASN menjauhi sikap meminta-minta kepada sesama manusia, baik berupa jabatan, fasilitas, maupun uang.
“Rezeki tidak akan tertukar. Syukuri apa yang ada, maka hidup kita akan berkah. Keserakahan hanya merusak integritas,” pungkasnya.
Komitmen Bersama adalah Kunci
Ia menegaskan bahwa keberhasilan Zona Integritas hanya dapat terwujud melalui komitmen kolektif dari seluruh elemen organisasi, mulai dari pimpinan hingga petugas kebersihan. (Mp/Red**).
