PENGUATAN KARAKTER RELIGIUS DAN KREATIVITAS ANAK MELALUI PROGRAM BIMBINGAN BELAJAR DENGAN PENDEKATAN SENI KRAYON
PENGUATAN KARAKTER RELIGIUS DAN KREATIVITAS ANAK MELALUI PROGRAM BIMBINGAN BELAJAR DENGAN PENDEKATAN SENI KRAYON
Nur Winda Maysara1, Muhammad Hambal Shafwan2
Universitas Muhammadiyah Surabaya1,2
windamaysara@gmail.com1, muhammadhambalshafwan@um-surabaya.ac.id2
Abstrak
Perkembangan anak usia prasekolah dan sekolah dasar memerlukan perhatian khusus dalam pembentukan karakter religius, kemampuan akademik dasar, serta kreativitas. Program bimbingan belajar dengan pendekatan seni krayon dirancang untuk memenuhi kebutuhan tersebut melalui kegiatan yang interaktif dan menyenangkan. Kegiatan pengabdiaan ini menggunakan Pendekatan Penelitian Tindakan Partisipatif (Participatory Action Research / PAR), melibatkan anak, orang tua, pengajar, dan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi kegiatan. Program mencakup pembelajaran Iqro’, hafalan surah pendek, calistung, pelajaran umum, serta seni krayon yang dikembangkan secara bertahap sesuai kemampuan anak. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan signifikan pada aspek religius, kreativitas, dan kemampuan akademik anak. Anak mampu membaca Iqro’ dengan lebih lancar, menambah hafalan surah, memahami dan mempraktikkan bacaan serta gerakan sholat, sekaligus menunjukkan kemampuan motorik halus, eksplorasi warna, serta ekspresi kreatif yang lebih baik. Selain itu, keterlibatan orang tua meningkat, tercipta lingkungan belajar yang suportif, dan interaksi sosial anak menjadi lebih positif. Program ini membuktikan bahwa penguatan karakter religius dan kreativitas melalui bimbingan belajar terpadu berbasis seni krayon efektif diterapkan sebagai model pembinaan pendidikan anak yang partisipatif dan berkelanjutan.
Kata kunci: karakter religius, kreativitas anak, bimbingan belajar, seni krayon, PAR
Abstract
Early childhood and elementary education play a crucial role in developing religious character, basic academic skills, and creativity. This study implemented a learning guidance program using a crayon art approach to foster these aspects in children. The program applied a Participatory Action Research (PAR) approach, engaging children, parents, teachers, and the community in planning, implementation, observation, and reflection. Activities included Iqro’ learning, memorization of short surahs, literacy and numeracy (calistung), general subjects, and progressive crayon art exercises. Results showed significant improvements in religious, creative, and academic domains. Children demonstrated better proficiency in reading Iqro’, memorizing surahs, and performing prayer movements correctly, while also enhancing fine motor skills, color exploration, and creative expression. Parental involvement and a supportive learning environment strengthened social interactions and collaborative learning. This program illustrates that integrated learningthrough religious education and crayon art is an effective, participatory, and sustainable approach to early childhood development.
Keywords: religious character, child creativity, learning guidance, crayon art, participatory action research
Pendahuluan
Perkembangan anak usia pra sekolah dan sekolah dasar merupakan fase penting dalam pembentukan karakter dan kemampuan dasar yang akan menjadi fondasi bagi kehidupan mereka di masa depan (Daeng et al., 2025). Pada tahap ini, anak memerlukan lingkungan yang mampu menumbuhkan nilai-nilai religius, kemampuan literasi dan numerasi, sekaligus keterampilan kreatif. Sayangnya, banyak anak yang belum mendapatkan pendampingan belajar yang memadai, baik dalam aspek pembelajaran agama, kemampuan dasar membaca, menulis, berhitung (calistung), maupun stimulasi kreativitas yang terarah. Kondisi ini terlihat terutama di masyarakat yang akses pendidikannya terbatas, sehingga anak memerlukan layanan bimbingan belajar yang terstruktur dan menarik (Sujatmiko et al., 2019).
Pendidikan pada dasarnya memiliki peran penting dalam membangun kecerdasan sekaligus kepribadian peserta didik agar terus berkembang menjadi lebih baik. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menegaskan bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Hakim, 2023). Tujuan tersebut sesuai dengan sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, sehingga pendidikan harus senantiasa dibangun dan dikembangkan agar mampu menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter luhur.
Selain itu, pendidikan karakter menjadi aspek strategis dalam pembangunan nasional. Rendahnya karakter masyarakat dapat berdampak pada kemunduran sosial dan ekonomi suatu bangsa. Nilai-nilai luhur budaya bangsa sebagai dasar masyarakat berpikir dan bertindak dapat dibentuk melalui pendidikan yang terarah. Sekolah dan berbagai lembaga pendidikan memiliki peran besar dalam mengembangkan kurikulum pendidikan karakter yang mampu membentuk perilaku peserta didik (Pridayani & Rivauzi, 2022). Pendidikan karakter sendiri merupakan proses internalisasi nilai-nilai positif agar peserta didik memiliki kepribadian yang baik (good citizen) berdasarkan nilai-nilai agama, budaya, dan falsafah bangsa. Lebih lanjut, pendidikan karakter menjadi salah satu solusi untuk membentuk pribadi peserta didik yang lebih baik. Tujuan pendidikan karakter berorientasi pada pengembangan nilai-nilai karakter bangsa yang bersumber dari Pancasila, meliputi: (1) mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik; (2) membangun bangsa yang berkarakter Pancasila; dan (3) mengembangkan potensi warga negara agar memiliki sikap percaya diri, bangga pada bangsa dan negaranya, serta mencintai umat manusia (Lukum, 2019).
Penguatan karakter religius sejak dini menjadi kebutuhan mendesak mengingat derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang dapat memengaruhi perilaku anak. Pembelajaran seperti bacaan sholat, bacaan surah-surah pendek, serta pembiasaan nilai-nilai akhlak merupakan upaya strategis dalam membentuk karakter spiritual yang kokoh (Rahmawati, 2022). Di sisi lain, kreativitas juga merupakan elemen penting dalam perkembangan anak karena berperan dalam menumbuhkan cara berpikir divergen, kemampuan pemecahan masalah, serta meningkatkan kepercayaan diri. Salah satu media yang efektif untuk menstimulasi kreativitas anak adalah kegiatan mewarnai dan melukis dengan krayon, karena aktivitas ini mendorong imajinasi, koordinasi motorik halus, dan ekspresi diri .
Program bimbingan belajar yang menggabungkan pembelajaran religius, calistung, pelajaran umum, serta seni mewarnai dan melukis dengan krayon merupakan bentuk intervensi yang relevan dan strategis dalam konteks pengabdian kepada masyarakat. Melalui pendekatan ini, anak tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan dasar, tetapi juga dibimbing untuk menumbuhkan karakter religius dan kreatif melalui proses pembelajaran yang menyenangkan, interaktif, dan mudah diterima. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan sebagai upaya untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak. Program ini diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi perkembangan spiritual, akademik, maupun kreativitas anak, serta menjadi model pembinaan yang dapat diterapkan pada lingkungan masyarakat lainnya.
Metode
Program pengabdian masyarakat ini menggunakan Pendekatan Tindakan Partisipatif (Participatory Action Research / PAR), yang menekankan keterlibatan aktif anak, orang tua, pengajar, dan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan refleksi kegiatan. Melalui PAR, tim pengabdian dapat mengidentifikasi kebutuhan dan potensi anak secara langsung, menyusun kelompok belajar berdasarkan kemampuan, serta merancang aktivitas pembelajaran religius, akademik, dan seni krayon yang interaktif dan menyenangkan. Program ini dilakukan secara bertahap, mulai dari pengenalan Iqro’, hafalan surah pendek, calistung, hingga teknik seni krayon yang semakin kompleks, sambil memantau perkembangan anak melalui observasi dan catatan harian.
Tahapan PAR dilakukan secara siklis, dimulai dari perencanaan (planning), yaitu tim bersama pengajar dan orang tua menyusun rencana kegiatan berdasarkan kebutuhan dan potensi anak, seperti pembelajaran Iqro’, hafalan surah, calistung, dan seni krayon. Selanjutnya pelaksanaan tindakan (action), di mana program dijalankan sesuai rencana dengan bimbingan aktif dari pengajar. Kemudian observasi (observation) dilakukan untuk mencatat perkembangan anak dalam aspek religius, akademik, dan kreativitas, serta interaksi sosial mereka. Terakhir, refleksi (reflection) bersama pengajar dan orang tua menilai hasil kegiatan, kendala, dan pencapaian, untuk merumuskan perbaikan pada siklus berikutnya sehingga pembelajaran lebih efektif dan berkelanjutan.
Hasil dan Pembahasan
Program bimbingan belajar dilaksanakan selama periode pengabdian dengan melibatkan anak-anak prasekolah dan sekolah dasar. Kegiatan dilakukan di Kota Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah. Pembagian sesi berdasarkan tingkat kemampuan anak. Anak yang tergabung berjumlah 20 orang. Secara umum, pelaksanaan program berjalan lancar dan mendapatkan dukungan penuh dari orang tua serta pengurus lembaga. Pengelompokan kegiatan dalam program bimbingan belajar ini disusun berdasarkan tingkat kemampuan anak serta karakteristik perkembangan mereka. Pada aspek religius, peserta dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok Iqro’ rendah (anak yang masih berada pada jilid awal dan belum lancar mengenal huruf hijaiyah) serta kelompok Iqro’ tinggi (anak yang telah memasuki jilid menengah dan siap memperdalam bacaan serta hafalan). Pengelompokan ini penting agar pendampingan berjalan lebih efektif dan sesuai kebutuhan masing-masing anak.
Pada aspek akademik, program membedakan calistung untuk anak prasekolah, yang berfokus pada pengenalan huruf, angka, dan latihan membaca-menulis dasar, dengan pelajaran umum untuk siswa sekolah dasar, mencakup matematika, bahasa Indonesia, dan Pancasila. Pemisahan ini dilakukan untuk memberikan strategi pembelajaran yang terarah sesuai tingkat kognitif anak. Sementara itu, kegiatan seni krayon diberikan secara bertahap, mulai dari mewarnai pola sederhana, teknik gradasi, hingga menggambar pemandangan alam yang lebih kompleks. Dengan pengelompokan tersebut, tahapan kegiatan setiap minggunya dapat diatur secara sistematis sebagaimana disajikan dalam tabel berikut. Kegiatan ini dilakukan mulai 1 Agustus 2025-31 Oktober 2025. Adapun rincian kegiatan, dapat dilihat melalui tabel di bawah ini.
Tabel 1. Jadwal Kegiatan Program Bimbingan Belajar
| Minggu | Tanggal | Fokus Kegiatan | Rincian |
| 1 | 1–8 Agustus 2025 | Orientasi & Dasar | Pengenalan program (1 Agustus), Iqro’ jilid awal, Hafalan An-Nas, Mewarnai pola sederhana, Calistung |
| 2 | 11–15 Agustus 2025 | Penguatan Dasar | Iqro’ lanjutan, Hafalan Al-Falaq, Mewarnai 2 warna, Menulis huruf konsonan |
| 3 | 18–22 Agustus 2025 | Pembiasaan Ibadah | Bacaan sholat dasar, Hafalan Al-Ikhlas, Gradasi sederhana, Membaca suku kata |
| 4 | 25–29 Agustus 2025 | Evaluasi Awal | Evaluasi Iqro’, hafalan, kreativitas, Permainan edukatif, dan Operasi hitung dasar |
| 5 | 1–5 September 2025 | Iqro’ Menengah | Iqro’ jilid menengah, Hafalan Al-Lahab, Gradasi 2–3 warna, Membaca kata sederhana |
| 6 | 8–12 September 2025 | Adab & Kreativitas | Pembiasaan sholat lengkap, mewarnai“pemandangan bawah laut”, Penjumlahan dasar, dan Penguatan adab sosial |
| 7 | 15–19 September 2025 | Penguatan Akademik | Adab: salam, antre, merapikan alat, Menggabungkan 3 warna, Membaca kalimat pendek, pelajaran mapel umum |
| 8 | 22–26 September 2025 | Evaluasi Tengah | Evaluasi tahap dua, Pamer karya, Permainan akademik, Penguatan hafalan |
| 9 | 29 Sept – 3 Okt 2025 | Kreativitas Tematik | Penguatan Iqro’, Menggambar pemandangan alam sederhana, Membaca paragraf sederhana |
| 10 | 6–10 Oktober 2025 | Pengembangan Lanjut | Menggambar pemandangan alam yang kompleks, Pengurangan dasar, pelajaran umum |
| 11 | 13–17 Oktober 2025 | Konsolidasi Keterampilan | Adab & kemandirian, Galeri karya, murajaah hafalan , Calistung lanjutan |
| 12 | 20–24 Oktober 2025 | Evaluasi Akhir | Evaluasi Iqro’, hafalan, sholat, Evaluasi kreativitas, Evaluasi calistung & akademik.Pelaporan ke orang tua |
| 13 | 27–31 Oktober 2025 | Penutupan Program | Refleksi akhir, Apresiasi karya, Dokumentasi penutupan |
Setelah seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan sesuai jadwal pada Tabel 1, program bimbingan belajar ini menunjukkan sejumlah capaian yang dapat diamati melalui perkembangan kemampuan anak dari aspek religius, kreativitas, dan akademik. Proses pendampingan berjalan secara bertahap dan berkesinambungan.
Penguatan karakter religius melalui pembelajaran keagamaan
- Belajar Iqro’
Kegiatan belajar Iqro’ dilakukan untuk membentuk dasar kemampuan membaca huruf hijaiyah dengan benar. Melalui pembelajaran ini, peserta didik dibimbing secara bertahap agar mampu mengenal, melafalkan, serta membaca huruf Arab sesuai kaidah tajwid sederhana. Kegiatan belajar iqro’ diberikan pada anak yang baru mengenal huruf dan berada di iqro’ bawah, hingga yang berada pada jilid tinggi.


- Menghafal surah-surah pendek dan belajar sholat
Kegiatan membaca dan menghafal surah-surah pendek bertujuan menanamkan nilai religius melalui pembiasaan berinteraksi dengan Al-Qur’an. Peserta didik dibimbing untuk memahami pelafalan yang benar serta menghafal surah-surah pilihan secara rutin. Pembiasaan bacaan dan gerakan sholat dilakukan untuk melatih peserta didik memahami dan mempraktikkan tata cara ibadah sholat secara benar. Melalui kegiatan rutin, anak dibimbing mengenal dan membiasakan diri dengan urutan gerakan, bacaan sholat, serta adab-adab yang menyertai ibadah. Pembiasaan ini diharapkan membentuk sikap religius, ketaatan beribadah, serta karakter yang berakhlak mulia.


Program ini juga menyertakan kegiatan calistung (membaca, menulis, dan berhitung) bagi anak-anak pra-sekolah sebagai bagian penting dari penguatan kemampuan literasi dan numerasi dasar. Kegiatan calistung dirancang secara bertahap, mulai dari pengenalan huruf dan angka, latihan menulis huruf vokal dan konsonan, hingga membaca suku kata sederhana. Selain calistung, program ini juga menyediakan pelajaran umum bagi siswa sekolah dasar yang mencakup mata pelajaran matematika, bahasa Indonesia, dan Pendidikan Pancasila.



Pengembangan kreativitas melalui pendekatan seni krayon
- Belajar mewarnai pola sederhana (untuk prasekolah)
Kegiatan mewarnai pola sederhana diberikan kepada anak-anak prasekolah sebagai tahap awal dalam mengenalkan seni dan melatih motorik halus. Anak dibimbing untuk mengisi gambar dengan warna secara rapi, mengikuti batas garis, serta mengenal berbagai bentuk dan objek dasar. Aktivitas ini membantu meningkatkan konsentrasi, koordinasi tangan-mata, serta kemampuan memilih warna yang sesuai. Pendekatan yang digunakan dibuat menyenangkan agar anak merasa nyaman dan antusias dalam mengeksplorasi kreativitasnya.
- Penggunaan teknik gradasi dengan campuran 2–3 warna sederhana
Pada tahap berikutnya, anak diperkenalkan dengan teknik gradasi dasar menggunakan dua hingga tiga warna. Anak dilatih mencampurkan warna secara bertahap untuk menghasilkan efek lembut dan berpadu. Melalui kegiatan ini, siswa belajar mengenal perbedaan intensitas warna, memadukan warna dengan tekanan krayon yang bervariasi, serta mengembangkan sensitivitas estetika. Teknik gradasi sederhana ini menjadi dasar penting sebelum anak diarahkan pada karya seni yang lebih kompleks.
- Penggunaan teknik gradasi lebih realistis pada pemandangan alam yang lebih kompleks
Tahap lanjutan diarahkan pada penggunaan teknik gradasi yang lebih realistis, terutama untuk menggambar pemandangan alam yang memiliki kombinasi warna lebih beragam. Anak mulai dilatih mengamati objek alam seperti langit, gunung, pepohonan, dan laut untuk kemudian menerapkannya dalam karya krayon secara lebih detail.




Peningkatan Karakter Religius Anak
Evaluasi dilakukan melalui observasi langsung, catatan perkembangan, dan komunikasi dengan orang tua. hasilnya menunjukkan adanya peningkatan yang cukup signifikan pada beberapa indikator:
- Kemampuan membaca iqro’, sebelum program, sebagian besar anak berada pada jilid awal. setelah kegiatan berjalan, sebagian besar anak menunjukkan kemajuan rata-rata satu hingga dua jilid
- Hafalan surah-surah pendek, mayoritas peserta mampu menambah hafalan baru seperti an-nas, al-falaq, dan al-ikhlas sampai al-Fil dengan pelafalan yang lebih tepat.
- Keteraturan bacaan dan gerakan sholat, anak mulai mampu menirukan gerakan secara benar serta mengucapkan bacaan sholat dengan lebih runtut.
- Pembiasaan akhlak sehari-hari, terdapat perubahan perilaku positif, seperti: mengucapkan salam ketika masuk kelas, disiplin merapikan alat belajar, saling membantu saat kegiatan mewarnai.
perubahan ini menunjukkan bahwa pendekatan religius yang dikombinasikan dengan pengalaman belajar yang menyenangkan mampu memperkuat internalisasi karakter anak.
Penguatan Kompetensi Dasar Sekolah (Calistung Dan Pelajaran Umum)
selain aspek religius dan seni, program bimbingan belajar juga menghasilkan peningkatan kemampuan akademik dasar.
- Calistung
anak prasekolah menunjukkan kemajuan signifikan dalam, mengenali huruf dan angka, menulis huruf vokal dan konsonan, dan membaca suku kata sederhana.
- Pelajaran umum untuk sd
peningkatan kemampuan terlihat pada operasi hitung dasar (penjumlahan dan pengurangan), pemahaman bacaan pendek, dan materi dasar pancasila seperti sila 1–5 dan contoh penerapannya. kegiatan akademik dipadukan dengan permainan edukatif sehingga suasana belajar tetap menyenangkan.
Peningkatan Kreativitas Melalui Seni Krayon
kegiatan seni krayon menjadi daya tarik utama bagi anak-anak. hasil pengamatan menunjukkan beberapa perkembangan berikut:
- Kemampuan motorik halus, anak mampu menggenggam krayon dengan lebih stabil dan mengisi ruang gambar dengan lebih rapi.
- Keterampilan eksplorasi warna, beberapa anak mulai berani menggabungkan dua hingga tiga warna serta mencoba gradasi sederhana.
- Pebebasan berekspresi, teknik menggambar bebas mendorong anak mengekspresikan fantasi, emosi, dan pengalaman sehari-hari.
- Peningkatan rasa percaya diri, setiap hasil karya dipajang di kelas, sehingga anak merasa dihargai dan semakin termotivasi.
Pendekatan seni terbukti mendukung proses meaningful learning, karena anak belajar sambil bermain dan berkreativitas tanpa tekanan akademik yang kaku.
Dampak Sosial Dan Keterlibatan Orang Tua
kegiatan ini memberikan dampak sosial yang positif bagi lingkungan mitra:
- Orang tua lebih terlibat dalam perkembangan belajar anak, melalui komunikasi rutin, orang tua menjadi lebih peduli dan aktif mengawasi perkembangan hafalan, sholat, dan kreativititas anak di rumah.
- Terbentuknya lingkungan belajar yang suportif, anak-anak belajar bersama di luar jam sekolah, menciptakan budaya belajar baru yang lebih produktif.
- Meningkatnya solidaritas antar anak, kegiatan seni dan hafalan dilakukan secara berkelompok, sehingga tercipta interaksi sosial yang positif.
Pelaksanaan program bimbingan belajar dengan pendekatan seni krayon terbukti efektif dalam mengintegrasikan penguatan karakter religius, peningkatan kemampuan akademik dasar, serta pengembangan kreativitas anak. Secara teoritis, keberhasilan program ini sejalan dengan konsep pendidikan karakter yang menekankan pentingnya internalisasi nilai melalui pembiasaan, keteladanan, dan pengalaman konkret. Pembelajaran Iqro’, hafalan surah pendek, dan praktik sholat memungkinkan anak memperoleh pengalaman langsung dalam menjalankan ajaran agama, sehingga nilai religius tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Perubahan pada indikator seperti kemampuan membaca Iqro’, keteraturan ibadah, dan kebiasaan akhlak menunjukkan bahwa aktivitas pembiasaan yang terstruktur dapat memperkuat karakter spiritual anak.
Di sisi lain, peningkatan kemampuan akademik melalui calistung dan pelajaran umum juga sejalan dengan teori perkembangan kognitif anak usia dini yang menekankan pentingnya stimulasi bertahap sesuai kemampuan (Ukar et al., n.d.). Pembelajaran membaca, menulis, berhitung, serta materi umum yang dikombinasikan dengan permainan edukatif menjadikan proses belajar lebih menarik dan mudah diterima (Jumrodah et al., 2024). Kemajuan anak dalam mengenal huruf, angka, membaca suku kata, hingga memahami materi dasar Pancasila memperlihatkan bahwa pendekatan yang menyenangkan mampu meningkatkan fokus dan motivasi belajar anak.
Penerapan seni krayon sebagai sarana pengembangan kreativitas turut memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan motorik halus, eksplorasi warna, kepekaan estetika, dan kepercayaan diri anak. Aktivitas mewarnai, membuat gradasi, hingga menggambar pemandangan alam memfasilitasi anak untuk berpikir divergen, mengembangkan imajinasi, serta mengekspresikan ide melalui visual (Wahyuni, 2018). Hal ini mendukung prinsip learning by doing, di mana anak belajar melalui pengalaman langsung yang memberikan makna emosional dan kognitif.
Dari sisi sosial, program ini berhasil meningkatkan keterlibatan orang tua serta menciptakan lingkungan belajar yang suportif. Komunikasi rutin antara pendamping dan orang tua membuat proses pendidikan menjadi kolaboratif, sesuai dengan prinsip PAR (Participatory Action Research) yang menempatkan masyarakat sebagai bagian aktif dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Interaksi antar anak selama kegiatan berlangsung juga memperkuat kemampuan sosial, seperti kerja sama, saling membantu, dan disiplin. Dengan demikian, program ini tidak hanya menghasilkan perubahan individual, tetapi juga turut membangun kultur belajar positif di lingkungan masyarakat.
Kesimpulan
Program bimbingan belajar dengan pendekatan seni krayon yang dilaksanakan melalui metode Participatory Action Research (PAR) terbukti efektif dalam menguatkan karakter religius, meningkatkan kemampuan akademik dasar, serta mengembangkan kreativitas anak. Melalui kegiatan terstruktur seperti pembelajaran Iqro’, hafalan surah pendek, praktik sholat, calistung, pelajaran umum, dan seni krayon, anak memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna. Hasil program menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kemampuan membaca Iqro’, pemahaman ibadah, pembiasaan akhlak, serta kemampuan literasi dan numerasi dasar. Selain itu, kegiatan seni krayon mampu menstimulasi motorik halus, eksplorasi warna, serta menumbuhkan rasa percaya diri dan ekspresi kreatif anak.
Di sisi lain, keterlibatan aktif orang tua dan lingkungan sekitar turut memperkuat keberhasilan program. Mekanisme PAR memungkinkan orang tua, pengajar, dan masyarakat berkolaborasi dalam memantau perkembangan anak, menciptakan suasana belajar yang suportif, dan membangun budaya belajar yang positif. Program ini tidak hanya memberikan dampak pada perkembangan individual anak, tetapi juga meningkatkan interaksi sosial, kerja sama, dan kesadaran orang tua terhadap pendidikan anak. Dengan demikian, model pembinaan ini dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan program pendidikan anak usia dini dansekolah dasar yang bersifat partisipatif, religius, kreatif, dan berkelanjutan.
Daftar Isi
Daeng, A., Taufik, & Rivai Makduani. (2025). Memahami Karakteristik Anak Usia Sekolah Dasar. 15(1), 1–5.
Hakim, L. (2023). Equal access to education for the people in accordance with the mandate of Law Number 20 of 2003 concerning the National Education System. EduTech: Jurnal Ilmu Pendidikan Dan Ilmu Sosial, 2(1), 53–64.
Jumrodah, J., Oktaviany, M., Amelia Safitri, D., Amalia, U., Yunita, Y., & Safitri, L. (2024). Penerapan Model Pembelajaran Calistung di Rumah Pintar Sebagai Upaya Pendidikan Anak-Anak di Desa Walur. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Nusantara, 5(2), 2442–2450. https://doi.org/10.55338/jpkmn.v5i2.3201
Rahmawati. (2022). Internalisasi pendidikan karakter pelajar melalui pembentukan revolusi mental. 1.
Lukum, A. (2019). PENDIDIKAN 4.0 DI ERA GENERASI Z: TANTANGAN DAN SOLUSINYA. In Pros. Semnas KPK (Vol. 2). https://www.
Pridayani, M., & Rivauzi, A. (2022). Faktor Pendukung dan Penghambat Pelaksanaan Program Penguatan Pendidikan Karakter Religius Terhadap Siswa. An-Nuha, 2(2), 329–341. https://doi.org/10.24036/annuha.v2i2.188
Sujatmiko, I. N., Arifin, I., & Sunandar, A. (2019). Penguatan Pendidikan Karakter di SD. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, Dan Pengembangan, 4(8), 1113. https://doi.org/10.17977/jptpp.v4i8.12684
Ukar, D. S., Taib, B., Alhadad, B., & Ternate, U. K. (n.d.). MENGGAMBAR.
Wahyuni, R. S. (2018). Upaya Meningkatkan Kecerdasan Visual. Jurnal Tunas Siliwangi, 4(1), 41. http://e-journal.stkipsiliwangi.ac.id/index.php/tunas-siliwangi/article/view/1197
