MEKAH, PATROLI POS
Tim kesehatan haji asal Kabupaten Probolinggo menunjukkan kesiapsiagaan tinggi selama pelaksanaan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Di tengah cuaca panas ekstrem, kepadatan jutaan jemaah, dan tingginya aktivitas fisik selama rangkaian ibadah haji, petugas kesehatan terus bergerak memberikan pelayanan dan penanganan medis kepada jemaah, khususnya lanjut usia (lansia) dan jemaah risiko tinggi (risti).
Pelayanan tidak hanya ketika di Arofah, Muzdalifah, Mina (ARMUZNA). Sebelumnya menjelang pelaksanaan armuzna petugas kesehatan TPHD bersama petugas kloter juga melakukan pemeriksaan awal untuk mengetahui kondisi jemaah. Dan ini juga merupakan giat rutin yang dilakukan selama jemaah berada di Mekkah hingga kembali ke tanah air
Sejak pelaksanaan wukuf di Arafah hingga proses pergeseran menuju Mina, tim kesehatan terus melakukan pemantauan kondisi jemaah secara intensif. Pelayanan kesehatan dilakukan langsung di tenda-tenda jemaah untuk memastikan kondisi fisik jemaah tetap stabil selama menjalankan ibadah.
Selama proses Armuzna, dilaporkan terdapat satu jemaah yang mengalami gejala heat stroke ringan akibat suhu panas dan kelelahan fisik. Tim kesehatan bergerak cepat melakukan pemeriksaan dan penanganan medis sehingga kondisi jemaah dapat segera tertangani dengan baik.
“Alhamdulillah kondisi jemaah yang mengalami heat stroke ringan dapat segera ditangani dan sampai saat ini tetap terpantau aman hingga pelaksanaan ibadah di Mina,” ujar salah satu petugas kesehatan kloter.
Selain melakukan penanganan medis, tim kesehatan juga aktif memberikan edukasi dan imbauan kesehatan kepada seluruh jemaah agar tetap menjaga kondisi tubuh selama berada di Tanah Suci. Jemaah diimbau memperbanyak konsumsi air putih, air hangat, dan oralit guna mencegah dehidrasi akibat suhu panas yang tinggi.
Petugas kesehatan juga meminta jemaah menggunakan alat pelindung diri seperti payung, topi, masker, dan kacamata hitam saat beraktivitas di luar tenda. Penggunaan pakaian ihram yang nyaman dan menyerap keringat juga dianjurkan untuk membantu menjaga suhu tubuh tetap stabil.
Selain itu, jemaah diingatkan agar tidak memaksakan diri beraktivitas pada pukul 11.00 hingga 15.00 waktu setempat karena merupakan periode suhu paling panas. Jemaah dianjurkan beristirahat secara berkala dan segera menuju pos kesehatan apabila mengalami gejala seperti pusing berat, mual, tubuh lemas, kulit terasa panas dan kering, maupun penurunan kesadaran.
Kesiapsiagaan tim kesehatan tidak hanya dilakukan saat penanganan medis, tetapi juga melalui pendampingan langsung kepada jemaah lansia dan risiko tinggi di tenda Mina. Bahkan, sejumlah petugas kesehatan rela pelaksanaan lontar jumrah Aqabahnya dibadalkan demi tetap mendampingi jemaah yang membutuhkan perhatian khusus.
Salah satu contoh terlihat pada Kloter SUB 01, di mana Ida Nur Santi selaku paramedis bersama dr. Aji Pratama sebagai dokter kloter tetap siaga mendampingi jemaah di tenda Mina selama proses Armuzna hingga menuju tawaf ifadhah.
Kekompakan seluruh unsur pelayanan haji, mulai dari tenaga kesehatan, petugas kloter, TPHI, TPIHI, karu, karom, hingga pembimbing KBIHU juga menjadi faktor penting dalam menjaga keselamatan dan kenyamanan jemaah selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Kepala Kementerian Haji Kabupaten Probolinggo, HM. Barzan Ahmadi, mengapresiasi dedikasi seluruh tim kesehatan dan petugas haji yang terus bekerja tanpa mengenal waktu demi memastikan jemaah dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman.
Menurutnya, pelayanan kesehatan menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan ibadah haji modern yang mengedepankan perlindungan dan keselamatan jemaah, khususnya kelompok rentan.
Di tengah padatnya aktivitas dan tantangan cuaca ekstrem selama Armuzna, kehadiran tim kesehatan menjadi garda terdepan dalam menjaga kondisi jemaah haji asal Kabupaten Probolinggo agar tetap sehat dan mampu menyelesaikan rangkaian ibadah dengan baik. (Mp/Red**).
