SITUBONDO, PATROLI POS
Wisuda Sarjana ke-6 Ma’had Aly Nurul Qadim Probolinggo yang digelar di Royal Ballroom Utama Raya, Situbondo, Senin (29/6/2026), berlangsung khidmat dan sarat pesan penguatan tradisi keilmuan pesantren. Acara tersebut dihadiri para ulama, akademisi, tokoh masyarakat, wali mahasantri, serta jajaran Kementerian Agama.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Dr. H. Samsur, hadir mewakili Kementerian Agama dan mendapat kehormatan menobatkan Wisudawan Terbaik sebagai bentuk apresiasi atas prestasi akademik dan dedikasi para mahasantri selama menempuh pendidikan di Ma’had Aly.
Dalam sambutannya, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qadim, KH. Abdul Hadi Noer, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya wisuda serta mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan Ma’had Aly Nurul Qadim, mulai dari keluarga besar pondok pesantren, Mudir Ma’had Aly, Majelis Masyayikh, para dosen, wali mahasantri, hingga seluruh tamu undangan.
Ia mengungkapkan bahwa hingga wisuda angkatan keenam, Ma’had Aly Nurul Qadim telah meluluskan 295 alumni. Dari jumlah tersebut, 63 orang telah mengabdikan diri sebagai dosen dan guru, sementara 16 alumni melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Menurutnya, pendidikan tafaqquh fiddin merupakan jalan yang tidak ringan karena menuntut kesungguhan dalam mendalami ilmu-ilmu keislaman. Namun, proses tersebut menjadi investasi terbaik yang manfaatnya tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi juga menjadi amal jariyah yang terus mengalir sepanjang hayat.
Sementara itu, Prof. Dr. KH. Abd. Halim Soebahar, M.A., Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur sekaligus Pengurus LPPD Jawa Timur, memberikan apresiasi atas perkembangan Ma’had Aly Nurul Qadim yang dinilai berhasil membangun tata kelola kelembagaan secara profesional tanpa meninggalkan jati diri pesantren.
Ia menegaskan bahwa keunggulan Ma’had Aly Nurul Qadim tidak hanya tampak dari sisi akademik, tetapi juga dari kuatnya budaya literasi, penguasaan kitab-kitab turats, tradisi penelitian, serta penguatan karakter dan akhlak para mahasantri.
“Penguatan tradisi akademik yang dipadukan dengan pendalaman ilmu agama dan pembinaan moral menjadi ciri khas yang membedakan lulusan Ma’had Aly dengan lulusan perguruan tinggi lainnya,” ujarnya.
Menurutnya, berdasarkan hasil penelitian yang pernah melibatkan 27 perguruan tinggi dan sejumlah lembaga penelitian, Pondok Pesantren Nurul Qadim telah lama dikenal sebagai salah satu pesantren dengan tata kelola pendidikan yang baik serta konsisten mengembangkan kualitas sumber daya manusia.
Ia juga mengingatkan pentingnya membangun budaya belajar sepanjang hayat agar pesantren tetap mampu menjawab perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas keilmuan yang diwariskan para ulama.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, menobatkan Wisudawan Terbaik sebagai bentuk penghargaan kepada mahasantri yang berhasil menunjukkan prestasi akademik, integritas, dan keteladanan selama menempuh pendidikan di Ma’had Aly Nurul Qadim.
Puncak acara diisi dengan orasi ilmiah yang disampaikan oleh Prof. Dr. Abd. A’la Basyir, M. Ed anggota Majelis Masyayikh Republik Indonesia.
Dalam orasinya, Prof A’la menegaskan bahwa Ma’had Aly merupakan ekosistem pendidikan tinggi pesantren yang dibangun secara utuh, mulai dari tata kelola kelembagaan, kurikulum, hingga tradisi akademiknya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh wisudawan yang berhasil menyelesaikan pendidikan karena tidak semua orang memperoleh kesempatan menempuh pendidikan takhassus di Ma’had Aly.
“Kami hadir bukan hanya untuk memberikan apresiasi, tetapi juga sebagai bagian dari penjaminan mutu penyelenggaraan Ma’had Aly agar kualitas pendidikan tinggi pesantren terus meningkat,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa keberadaan Majelis Masyayikh bukan untuk menyeragamkan seluruh pesantren, melainkan memastikan standar mutu akademik tetap terjaga dengan menghormati kekhasan dan tradisi masing-masing pesantren.
Dalam orasinya, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga sanad keilmuan sebagai fondasi utama pendidikan Islam. Menurutnya, kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), tidak dapat menggantikan proses transmisi ilmu yang berlangsung melalui bimbingan langsung para guru dan pengasuh pesantren.
“Ilmu tidak hanya dipelajari dari buku atau teknologi, tetapi diwariskan melalui sanad yang bersambung dari guru kepada murid. Tanpa sanad, seseorang dapat berbicara apa saja tanpa landasan keilmuan yang kuat,” tegasnya.
Selain menjaga sanad, Prof A’la menekankan pentingnya penguatan tata kelola pesantren. Ia mengutip hikmah yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib bahwa kebenaran yang tidak dikelola dengan baik dapat dikalahkan oleh kebatilan yang dikelola secara rapi.
Karena itu, pesantren dituntut terus memperkuat manajemen kelembagaan sekaligus merealisasikan konsep isti’mar sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an, sehingga mampu menjalankan tiga fungsi utamanya secara optimal, yaitu sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan umat.
Ia berharap Ma’had Aly terus berkembang sebagai jangkar sekaligus mercusuar keilmuan pesantren, melahirkan ulama, akademisi, dan pemimpin umat yang mampu menjaga tradisi keilmuan Islam sekaligus memberikan solusi atas berbagai tantangan kehidupan masyarakat.
Wisuda Sarjana ke-6 Ma’had Aly Nurul Qadim menjadi momentum penting untuk memperkuat eksistensi pendidikan tinggi pesantren di Indonesia. Dengan penguatan tata kelola, kualitas akademik, serta komitmen menjaga sanad keilmuan, Ma’had Aly Nurul Qadim diharapkan terus melahirkan lulusan yang berintegritas, berakhlak mulia, dan mampu menjadi pelopor kemajuan umat, bangsa, dan negara. (Mp/Red**).
