MALANG, PATROLI POS
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong para santri untuk terus meningkatkan kapasitas diri agar mampu berkiprah tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di kancah global.
Pesan tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri pembukaan Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI di Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo”, Bululawang, Kabupaten Malang, Kamis (1/10/2026).
Mengusung tema “Santri Indonesia Menjaga Alam”, PPSN VI berlangsung pada 1–6 Oktober 2026 dan diikuti santri dari berbagai daerah di Indonesia.
“Menjadi ulama mendunia, menjadi pebisnis luar biasa,” tegas Khofifah di hadapan para peserta.
Menurut Khofifah, pesantren dan Gerakan Pramuka Santri memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi muda yang berkarakter, berpengetahuan, mandiri, sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan dunia.
“Pramuka santri hebat, pondok pesantren hebat. Kita adalah warga bangsa dan warga dunia yang hebat,” ujarnya.
Khofifah juga mengajak para santri untuk terus belajar dan memperluas akses pendidikan hingga jenjang tertinggi. Ia berharap santri dapat tumbuh menjadi ilmuwan, profesional, ulama, maupun pelaku usaha yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Semoga para santri bisa terus belajar dan bermanfaat. Bisa menjadi profesor dan doktor,” katanya.
Ia turut menyampaikan apresiasi atas perkembangan pendidikan tinggi keagamaan Islam serta sinerginya dengan pesantren. Menurut Khofifah, ekosistem pesantren yang kuat menjadi salah satu penopang berkembangnya tradisi keilmuan di perguruan tinggi Islam.
“Semoga semakin sukses dan manfaat, barokah,” ucapnya.
Selain mendorong peningkatan kapasitas dan daya saing santri, Khofifah menekankan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan. Pesan tersebut sejalan dengan tema PPSN VI yang menempatkan pelestarian alam sebagai salah satu fokus kegiatan.
Dalam rangkaian PPSN VI di Pesantren An-Nur II, akan dilakukan penanaman sebanyak 10 ribu pohon. Gerakan ini menjadi bagian dari upaya menanamkan kesadaran ekologis sekaligus membangun karakter santri agar memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.
“Perkemahan santri di pesantren wisata ini akan menanam 10 ribu pohon. Kita wujudkan cinta lingkungan,” kata Khofifah.
Ia berharap kepedulian terhadap alam tidak berhenti selama pelaksanaan PPSN VI. Nilai tersebut, menurutnya, perlu dibawa para santri ke pesantren dan daerah asal masing-masing sehingga menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesantren Jadi Ruang Pembentukan Karakter
Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo”, Dr. KH. Fathur Rozi, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada pesantrennya sebagai tuan rumah PPSN VI.
Menurutnya, pesantren memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda sekaligus menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan antarsantri dari berbagai daerah di Indonesia.
Melalui Pramuka Santri, nilai-nilai kemandirian, kedisiplinan, kepedulian terhadap alam, kecintaan terhadap tanah air, dan persaudaraan dapat dikembangkan secara bersamaan.
Pada hari pertama pelaksanaan, sebanyak 31 kontingen putra dan putri tingkat provinsi telah menyelesaikan registrasi ulang, di luar kontingen tuan rumah. Para peserta berasal dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, hingga Maluku dan Papua.
Pembukaan PPSN VI turut dihadiri Menteri Agama RI Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA; Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa; Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI; Direktur Jenderal Pesantren Dr. Basnang Sa’id; jajaran pejabat eselon I dan II Kementerian Agama; para Kepala Kanwil Kemenag dan Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren dari berbagai provinsi; Kepala Kankemenag kabupaten/kota se-Jawa Timur; para kepala daerah se-Malang Raya; serta jajaran Polda Jawa Timur.
PPSN VI diharapkan menjadi ruang pembelajaran, pengabdian, dan pengembangan diri yang mempertemukan nilai keagamaan, kepanduan, kecintaan terhadap tanah air, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Dari Malang, para santri membawa pesan bahwa menjadi generasi unggul bukan hanya tentang kemampuan untuk berprestasi dan berkiprah hingga tingkat dunia, tetapi juga tentang kesediaan menjaga alam, memperkuat persaudaraan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. (Mp/Red**).
