MALANG, PATROLI POS
Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama RI Dr. Basnang Sa’id saat memberikan sambutan di acara Opening Ceremony Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) 2026 di PP. An Nur II Al Murtadho Bululawang Malang menegaskan pentingnya membentuk santri yang mandiri, unggul, dan memiliki karakter tangguh. Menurutnya, santri memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi yang mampu berkontribusi bagi terwujudnya Indonesia Emas.Kamis (1/10/2026) malam.
Ia menekankan bahwa pendidikan kepesantrenan dan kepramukaan perlu diarahkan untuk membangun karakter santri yang memiliki kecintaan terhadap tanah air, kepedulian terhadap lingkungan, serta kemampuan untuk berperan aktif di tengah masyarakat.
Dalam konteks PPSN VI, semangat menjaga alam menjadi bagian penting dari pembentukan karakter santri. Jiwa kepanduan, nilai-nilai keagamaan, kecintaan terhadap bangsa dan negara, serta kepedulian ekologis diharapkan dapat berjalan secara harmonis.
Basnang juga mengajak para peserta memperkuat identitas sebagai santri Indonesia. Dengan gaya komunikatif, ia mengajak peserta merespons bersama:
“Siapa kita?”
“Santri Indonesia!”
“Santri Indonesia?”
“Unggul, mandiri, mendunia!”
Ia kemudian menggaungkan semangat “Ayo Mondok, Mondok Itu Keren” sebagai bagian dari upaya memperkuat pendidikan pesantren dan membangun kepercayaan diri generasi santri.
Basnang menegaskan bahwa PPSN VI juga menjadi momentum untuk mengimplementasikan nilai ASRI: Aman, Sehat, Resik, dan Indah. Nilai tersebut selaras dengan tema “Santri Indonesia Menjaga Alam” serta upaya menciptakan lingkungan pesantren yang sehat, bersih, aman, dan nyaman.
Ia mengaitkan semangat tersebut dengan nilai-nilai kepramukaan, khususnya Dasa Darma Pramuka yang menanamkan kecintaan kepada Tuhan dan alam. Penguatan Pramuka di lingkungan pesantren, menurutnya, sekaligus menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air.
“Cinta tanah air merupakan bagian dari iman,” ujarnya.
Ekoteologi dan Gerakan Pesantren Berdampak
Lebih lanjut, Basnang menyampaikan bahwa PPSN VI tidak semata-mata diarahkan sebagai kegiatan seremonial, tetapi sebagai ruang penguatan gerakan santri yang memberikan dampak nyata, khususnya di lingkungan pesantren.
Sejumlah agenda disiapkan dalam rangkaian kegiatan, antara lain kegiatan kepramukaan, karnaval, Bakti Husada, kegiatan pengabdian, serta koordinasi dengan unsur gerakan Pramuka nasional.
PPSN VI juga menjadi momentum untuk mengampanyekan Islam yang toleran dan harmonis melalui pendekatan ekoteologi, yakni memperkuat kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.
“Kita ingin mengkampanyekan Islam toleran, harmoni, dan ekoteologi,” kata Basnang.
Ia juga mendorong para santri untuk menjadi duta santri ramah anak dan teladan bagi generasi di bawahnya. Para santri diharapkan memiliki keberanian untuk menyampaikan gagasan dan bersuara terhadap persoalan sosial di lingkungan sekitarnya.
“Santri kita akan menjadi duta santri ramah anak dan teladan bagi adik-adiknya, serta mampu speak up,” ujarnya.
Ke depan, Basnang menegaskan pentingnya menghadirkan kegiatan yang memiliki dampak berkelanjutan, terutama di lingkungan pondok pesantren.
“Ke depan, kita akan melakukan hal-hal yang berdampak, utamanya di pondok pesantren,” pungkasnya.(Mp/Red**).
