BANYUWANGI, PATROLI POS
Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur menggelar Rapat Kerja Pimpinan (Rakerpim) Evaluasi Program Kerja Triwulan I Tahun 2026 pada 9–10 April 2026 di Hotel Aston Banyuwangi. Kegiatan ini diikuti oleh jajaran pimpinan Kemenag kabupaten/kota se-Jawa Timur sebagai forum strategis untuk mengukur capaian kinerja sekaligus merumuskan langkah percepatan program ke depan.
Berdasarkan rundown kegiatan, Rakerpim diawali dengan registrasi peserta pada Kamis siang (9/4), dilanjutkan pertemuan khusus Kepala Kemenag. Agenda inti berupa evaluasi pelaksanaan program kerja Triwulan I berlangsung sejak sore hingga malam hari, kemudian berlanjut pada hari kedua dengan sesi pemantapan evaluasi dan penutupan.
Pada malam hari, kegiatan dipusatkan di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang dihadiri oleh Bupati Banyuwangi. Selain melanjutkan evaluasi, agenda tersebut juga diisi dengan silaturahim serta pelepasan para purna tugas.
Dalam arahannya, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Akhmad Sruji Bahtiar, menekankan bahwa keberhasilan program strategis Kementerian Agama sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang adaptif dan berpikir maju.
Ia menegaskan pentingnya penguatan daya pikir, nalar, dan kemampuan adaptasi dalam menyukseskan berbagai program prioritas (asta protas). Menurutnya, di tengah kebijakan efisiensi, seluruh jajaran harus mampu beradaptasi tanpa mengurangi kualitas kinerja dan layanan.

Kakanwil juga menggarisbawahi pentingnya kompetensi teknis, khususnya dalam memahami regulasi secara tepat. Ia mencontohkan adanya surat edaran dari Dirjen dan Sekjen terkait pencairan TPG bagi lulusan tahun 2025 yang harus dipahami dan ditindaklanjuti secara cermat oleh seluruh satuan kerja.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya membangun empati intelektual, yakni kemampuan memahami harapan, ide, perasaan, dan kebutuhan orang lain. Dari empati intelektual tersebut, akan tumbuh empati emosional yang memperkuat kualitas kepemimpinan dan pelayanan. “Pemimpin tidak cukup hanya baik, tetapi harus mampu,” tegasnya.
Dalam konteks kepemimpinan modern, Kakanwil mengingatkan bahwa era saat ini menuntut kerja tim yang solid. Ia menegaskan bahwa keberhasilan organisasi tidak lagi bertumpu pada figur “superman”, melainkan pada kekuatan “super team” yang mengedepankan kebersamaan. Karena itu, pola kepemimpinan yang harus dibangun adalah:
Partisipatif
Kolektif
Kolaboratif
Di bidang pendidikan, Kakanwil juga mendorong setiap daerah untuk memiliki minimal satu madrasah unggulan di setiap jenjang. Hal ini perlu didukung dengan pemetaan potensi keunggulan, baik dalam aspek mutu akademik, sains, bakat-minat, maupun tahfidz Al-Qur’an.
Selain penguatan arah kebijakan, Rakerpim juga menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis, antara lain:
1. Fleksibilitas kerja (WFH–WFO)
Pegawai diperbolehkan melaksanakan Work From Home (WFH), dengan ketentuan layanan utama seperti PTSP dan KUA tetap berjalan secara Work From Office (WFO).
2. Akuntabilitas kinerja WFH
Pegawai yang menjalankan WFH wajib mengirimkan titik lokasi (tilok) serta bukti kinerja sebagai bentuk pengawasan dan pertanggungjawaban.
3. Efisiensi energi dan penggunaan ruang kerja
Pegawai yang bekerja secara WFO pada tingkat seksi diwajibkan menempati satu ruangan bersama guna menghindari pemborosan energi listrik, seperti penggunaan AC dan penerangan di ruang terpisah.
Rakerpim ini menegaskan komitmen Kementerian Agama dalam membangun birokrasi yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada hasil. Melalui evaluasi yang terukur dan kepemimpinan yang kuat, seluruh jajaran diharapkan mampu menghadirkan layanan keagamaan yang semakin berkualitas dan berdampak luas bagi masyarakat, terang Dr. Samsur via WA. Pihaknya menyambut baik apa yang menjadi keputusan bersama dalam giat tersebut.(Mp/Red**).
